⌂ Beranda News Semburan Lumpur Lapindo Lumpuhkan Perekonomian di Kecamatan Porong

Semburan Lumpur Lapindo Lumpuhkan Perekonomian di Kecamatan Porong

Semburan Lumpur Lapindo Lumpuhkan Perekonomian di Kecamatan Porong
Kawasan Porong yang sepi akibat lumpur Lapindo
A A Ukuran Teks16px

Kawasan Porong di Sidoarjo yang dulunya ramai kini berubah drastis. Semburan lumpur panas sejak 2006 tidak hanya menenggelamkan permukiman, tetapi juga melumpuhkan perekonomian warga.

Sepanjang Jalan Raya Porong lama, bangunan kosong dan toko tutup mendominasi. Jalur yang dulu menjadi pusat perbelanjaan utama di Sidoarjo selatan kini sepi.

>>> Pemprov DKI Jakarta Genjot Sport Tourism Lewat Dua Event Internasional

Akses jalan terendam lumpur memicu perputaran ekonomi terhenti di tiga kecamatan: Porong, Jabon, dan Tanggulangin. Ribuan warga terpaksa pindah, dan pusat keramaian perlahan menghilang.

Rio, pemilik Toko Cendrawasih, adalah salah satu pedagang yang bertahan. Toko sepatu dan sandalnya masih beroperasi di tengah sepinya kawasan.

"Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam.

Sekarang banyak yang tutup karena tidak ada pembeli," kata Rio, Senin (25/5).

Penurunan jumlah pengunjung terjadi seketika setelah semburan lumpur muncul. Mayoritas pedagang memilih tutup untuk menghindari kerugian lebih besar.

"Kalau malam dulu ramai, sekarang sepi seperti kota mati. Di sebelah utara sini tinggal toko saya yang masih bertahan," ujarnya.

Beberapa toko pakaian dan material bangunan di sisi selatan masih buka, namun aktivitasnya menurun drastis. Omzet pedagang pun merosot tajam.

Iswan Christanto, pemilik toko bahan bangunan di Porong lama, merasakan penurunan pembeli. "Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian," katanya.

Bencana ini memberikan dampak domino: kehilangan tempat tinggal, kerusakan lahan tani, dan anjloknya nilai properti. Kawasan yang dulu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kini terpuruk.

"Dulu Porong jadi pusat ekonomi masyarakat. Sekarang banyak usaha tutup gara-gara dampak lumpur," tambah Iswan.

Sektor pariwisata lokal juga terkena dampak. Ula Muanisa (42), pemandu wisata setempat, mengungkapkan kondisi destinasi wisata Lumpur Lapindo sudah sangat sepi.

>>> Indonesia Tanpa Gelar di Indonesia Open 2026, Jonatan Christie dan Ganda Putra Kalah di Final

Penurunan jumlah pelancong memangkas penghasilan harian warga yang bergantung pada jasa pariwisata. "Dulu penghasilan bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu sehari.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru