Setiap kali nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, perhatian publik segera tertuju pada pergerakan angka di pasar keuangan.
Kekhawatiran akan kenaikan harga barang, membengkaknya biaya impor, melambatnya investasi, dan ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi pun muncul.
>>> Solarky Tawarkan Garansi Baterai Kendaraan Listrik Hingga 8 Tahun
Fenomena ini kembali terlihat ketika rupiah mengalami tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Namun, pertanyaan yang lebih krusial bukanlah mengapa rupiah melemah saat ini, melainkan mengapa kerentanan tersebut terus berulang dari waktu ke waktu.
Perjalanan ekonomi Indonesia selama hampir tiga dekade terakhir menunjukkan pola yang relatif sama.
Saat terjadi gejolak global, seperti krisis keuangan Asia 1998, krisis finansial global 2008, Taper Tantrum 2013, pandemi Covid-19, hingga ketidakpastian geopolitik terkini, rupiah hampir selalu berada dalam posisi rentan.
Meskipun tingkat keparahan setiap periode berbeda, pola ini mengindikasikan bahwa persoalan tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal.
Ada karakteristik dalam struktur ekonomi nasional yang membuat rupiah lebih mudah tertekan dari seharusnya.
Indonesia patut bersyukur karena kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa krisis 1998.
Cadangan devisa kini berada pada kisaran 146–151 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai hampir enam bulan impor, jauh di atas standar internasional tiga bulan.
Sektor perbankan juga lebih sehat dengan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 2 persen.
Pengawasan sistem keuangan juga lebih terintegrasi melalui koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan Bank Indonesia, OJK, LPS, dan pemerintah.
Fondasi stabilitas makroekonomi Indonesia kini jauh lebih kokoh.
Namun, keberhasilan menjaga stabilitas ini tidak boleh mengabaikan persoalan mendasar. Pelemahan rupiah yang berulang merupakan sinyal bahwa transformasi ekonomi Indonesia belum sepenuhnya selesai.
Ketergantungan pada ekspor komoditas, impor bahan baku, dan aliran modal asing jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap gejolak global.