Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani semestinya mengalami kenaikan.
Hal ini didorong oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.
>>> Dua Pekerja Pipa Luka Bakar Akibat Ledakan Kabel Listrik di Cilandak
Menurut Amran, harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional tengah merangkak naik.
Pada saat yang sama, nilai mata uang dolar AS juga menguat sekitar 10 persen sejak 20 Mei lalu.
“Nilai dollar dengan rupiah itu selisih kenaikannya 10 persen.
Jadi minimal sama dengan seperti semula,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (8/6/2026).
Penurunan harga TBS dan CPO di dalam negeri mulai terjadi setelah pemerintah merilis kebijakan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Perusahaan tersebut diplot menjadi eksportir tunggal untuk produk sawit mulai 20 Mei lalu.
Begitu masa cutinya selesai dan kembali aktif bekerja, Amran segera menginstruksikan rapat koordinasi terkait pengendalian harga TBS dan CPO.
Agenda rapat tersebut melibatkan asosiasi petani, korporasi refinery, Gabungan Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), serta perwakilan Ditreskrimum dari beberapa Polda.
Amran kemudian memaparkan adanya kejanggalan pada tren pergerakan harga minyak sawit mentah domestik.
Kementan mencatat perbandingan bahwa harga CPO global pada Mei 2026 melonjak hingga 47,01 persen jika disandingkan dengan kondisi April 2024.
Kebalikannya, pertumbuhan harga TBS di tingkat nasional hanya berkisar antara 29 hingga 32 persen.
>>> Arsenal Pertimbangkan Lepas Leandro Trossard di Bursa Transfer Musim Panas
Dari sisi mata uang, dolar AS mengalami penguatan sebesar 10,83 persen atau setara peningkatan Rp1.763.
Namun, harga jual TBS lokal milik petani hanya merangkak naik sebesar Rp665 hingga Rp783 per kilogram.
Kondisi di lapangan menunjukkan realisasi harga TBS Perkebunan berada 20 persen di bawah angka yang ditetapkan oleh Gubernur.
Amran menyayangkan situasi di mana posisi rupiah tertekan oleh dolar AS, tetapi harga komoditas petani tidak ikut terangkat.
