Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai PT Danantara Sovereign Indonesia (DSI) sebaiknya tidak diarahkan menjadi eksportir tunggal komoditas sumber daya alam (SDA).
Sebaliknya, DSI dinilai lebih efektif jika difokuskan untuk memperkuat fungsi pengawasan dan tata kelola ekspor.
>>> Persija Jakarta Resmi Kontrak Shin Tae-yong Tiga Tahun
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan ekspor komoditas strategis berjalan transparan, memberikan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional, serta mencegah praktik yang merugikan negara.
"Saya menilai PT DSI harus memperkuat pengelolaan ekspor SDA dinilai perlu diarahkan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap iklim usaha dan investasi nasional," kata Wijayanto.
Ia menambahkan, "PT DSI sebaiknya tidak diposisikan sebagai eksportir tunggal, melainkan sebagai lembaga pengawas dan monitoring transaksi ekspor SDA."
Wijayanto mendukung tujuan pemerintah untuk menutup kebocoran devisa hasil ekspor SDA.
Namun, ia menekankan bahwa persoalan utamanya bukan pada struktur perdagangan ekspor, melainkan pada lemahnya pengawasan, baik dari sisi sistem maupun integritas sumber daya manusia.
PT DSI dibentuk oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara pada akhir Mei 2026 untuk memperkuat pengawasan ekspor komoditas strategis seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferroalloy.
Kebijakan ini bertujuan mengatasi praktik _underinvoicing_, _misinvoicing_, dan _transfer pricing_ yang diduga menyebabkan berkurangnya penerimaan negara dan tertahannya devisa ekspor di luar negeri.
Menurut Wijayanto, jika PT DSI diberi mandat sebagai eksportir tunggal seluruh komoditas SDA, risiko kegagalan operasional akan sangat besar.
"Jika DSI diposisikan sebagai eksportir tunggal, saya melihat kebijakan ini akan sulit dijalankan dan berpotensi gagal," ujarnya.
Ia juga mengemukakan, "Selain merusak iklim usaha, kompleksitas transaksi ekspor komoditas Indonesia sangat besar dan melibatkan ribuan pembeli serta berbagai mekanisme perdagangan internasional."
Wijayanto menjelaskan, hingga saat ini belum ada negara yang menerapkan model eksportir tunggal untuk berbagai komoditas SDA seperti yang akan dijalankan Indonesia.
"Kalau DSI muncul sebagai eksportir tunggal berbagai komoditas SDA, maka itu akan menjadi yang pertama di dunia. Tidak ada contoh negara lain yang menjalankan model seperti itu," jelasnya.
