Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencecar pimpinan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan perwakilan Wilmar Group dalam rapat pengendalian harga TBS dan CPO di Kementerian Pertanian, Senin (8/6/2026).
Langkah tegas ini diambil setelah harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit anjlok pasca pengumuman pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal produk kelapa sawit pada 20 Mei lalu.
>>> Jorge Martin Minta Maaf Akibat Picu Tabrakan Beruntun MotoGP Hungaria
Dalam rapat yang dihadiri asosiasi petani, refinery, GAPKI, dan Satgas Pangan, Mentan meminta penjelasan mengenai penurunan harga TBS di saat harga minyak sawit mentah (CPO) global meningkat dan dolar AS menguat.
Alasan GAPKI: Kepanikan Akibat Ketidakpastian
Ketua Umum GAPKI Edy Martono menjelaskan bahwa penurunan harga terjadi karena pasar panik setelah pengumuman PT DSI. Pengusaha tidak mengetahui skema dan wewenang perusahaan tersebut.
“Saya sudah lapor Pak Wamen (Wakil Menteri), jadi sebenarnya karena masalah panik, ketidakpastian,” kata Edy.
Edy mengaku mendapatkan pertanyaan dari pembeli di Uni Eropa dan negara importir lainnya mengenai kebijakan baru pemerintah Indonesia tersebut.
“Kita pun ditanya juga tidak tahu, Pak,” ujarnya.
Mendengar alasan tersebut, Mentan Amran mempertanyakan logika pengusaha yang memilih menurunkan harga komoditas di tengah situasi ketidakpastian. “Berarti kaget?
Kaget. Kenapa tidak lari naik kalau kaget?
Kenapa lari turun?” tanyanya.
Edy kemudian memberikan tanggapan singkat. “Biasa Pak, masalah ketidakpastian,” jawabnya.
Mentan menolak argumen tersebut dan membandingkannya dengan pengalamannya mengelola bisnis tambang nikel miliknya yang justru dinaikkan harganya saat menghadapi dinamika komoditas.
“Bapak kenapa lari kagetnya (menurunkan harga)? Itu menyusahkan 15 juta orang kagetnya Bapak?
Coba sebut apa adanya lah. Ini kamera sengaja saya live?”
kata Amran.
Pihak GAPKI menyatakan telah berupaya mendatangi Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tetapi tidak mendapatkan jawaban operasional mengenai PT DSI.
“Di perdagangan tidak tahu, di perekonomian juga tidak tahu waktu isu terjadi. Gitu Pak.