Adaptasi menjadi kunci utama ketahanan bisnis perusahaan.
Inovasi dinilai menjadi faktor krusial bagi perusahaan dalam melewati pergantian era dan dinamika peradaban.
"Brink’s telah melewati berbagai fase dan perubahan zaman, mulai dari penggunaan kuda dan kereta hingga menjadi perusahaan modern yang didukung armada kendaraan lapis baja dan teknologi layanan keuangan yang canggih," ujar Yustianto.
Keberlangsungan masa depan korporasi global ini dipandang bergantung pada ketepatan keputusan eksekutif serta strategi bisnis saat ini. "Brink’s telah bertahan selama 167 tahun.
Tugas kami sekarang adalah memastikan perusahaan ini terus berkembang selama 167 tahun ke depan," kata David Maksud.
Sejalan dengan ekspansi usaha, perusahaan melanjutkan komitmen pengelolaan lingkungan di kantor pusat dan 16 cabang Indonesia. Kemitraan dengan Armada Kemasan dilakukan untuk mendaur ulang limbah operasional.
Yustianto memaparkan bahwa seluruh sisa pembuangan operasional dipisahkan terlebih dahulu sebelum ditransformasikan menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.
"Seluruh limbah kami dipisahkan dan dikirim untuk didaur ulang menjadi berbagai produk seperti tempat sampah, kotak tisu, tas, serta lembaran plastik yang digunakan kembali dalam proses produksi," ujarnya.
Program kepedulian lingkungan diperkuat lewat pembentukan bank sampah korporasi di Depok yang ditargetkan meluas ke cabang lain.
Selain itu, ada program CSR seperti pelepasan tukik, penanaman mangrove, hingga bantuan pendidikan.
>>> Dolar AS Menguat, Industri Galangan Kapal Nasional Tertekan
"Karyawan akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi melalui kegiatan mengajar dan mendukung kebutuhan pendidikan di sana. Apa yang kami terima dari masyarakat, ingin kami kembalikan kepada masyarakat," kata Yustianto.