⌂ Beranda News Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia

Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia

Kembalinya Konsep Developmental State dalam Arsitektur Ekonomi Indonesia
Ilustrasi konsep developmental state dalam ekonomi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Ada sesuatu yang sedang berubah dalam arsitektur ekonomi Indonesia. Negara tampak tidak lagi puas hanya menjadi pengatur lalu lintas pasar.

Negara ingin lebih jauh masuk ke ruang produksi, investasi, komoditas, dan arah industrialisasi.

>>> FIFA Siapkan Stadion Azteca Jadi Lokasi Pembukaan Piala Dunia 2026

Bahasa yang paling halus untuk menggambarkan gejala ini adalah developmental state: negara yang tidak sekadar menjadi wasit, tetapi juga pengarah pembangunan.

Dalam batas tertentu, ini bukan sesuatu yang salah. Indonesia memang tidak pernah dibangun di atas imajinasi pasar bebas yang mutlak.

Sejak awal, republik ini lahir dengan keyakinan bahwa negara memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan perekonomian bekerja bagi kemakmuran bersama.

Namun, pasar selalu punya caranya sendiri untuk menguji gagasan besar. Ia tidak berdebat di seminar, tidak berpanjang kata dalam forum kebijakan, dan tidak menunggu pidato selesai.

Pasar menjawab dengan angka.

Dalam beberapa waktu terakhir, dua angka itu berbicara sangat keras: rupiah dan bursa.

Nilai tukar yang melemah dan IHSG yang tertekan memberi pesan penting bahwa negara boleh mengambil peran besar.

Namun, pasar hanya akan menerima peran itu jika ia percaya pada mutu tata kelola, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas institusi yang menopangnya.

Negara Hadir, Pasar Mulai Menghitung

Dalam kerangka developmental state, negara memang dituntut hadir secara aktif.

Ia harus mampu menentukan prioritas industrialisasi, mengarahkan investasi, menata sumber daya alam, memperkuat BUMN, dan memastikan bahwa pertumbuhan tidak sepenuhnya ditentukan oleh arus modal jangka pendek.

Pada titik ini, Indonesia terlihat sedang bergerak ke arah tersebut.

Negara ingin lebih kuat dalam hilirisasi, lebih dominan dalam pengelolaan aset strategis, lebih tegas dalam mengatur komoditas, dan lebih berani membangun mesin pertumbuhan jangka panjang.

Secara konseptual, langkah ini dapat dipahami. Negara berkembang tidak pernah benar-benar bisa naik kelas hanya dengan berharap pasar akan bekerja sendiri.

Jepang, Korea Selatan, dan China menunjukkan bahwa lompatan pembangunan hampir selalu melibatkan negara yang aktif, terampil, dan disiplin.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru