⌂ Beranda News Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya

Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya

Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya
Ilustrasi nyeri dada akibat angin duduk
A A Ukuran Teks16px

Fenomena angin duduk dengan gejala nyeri dada kerap disepelekan sebagai masuk angin biasa. Banyak orang mengatasinya dengan kerokan atau obat tradisional.

Ahli mengatakan bahwa kondisi ini menyimpan risiko penyakit yang lebih besar, yakni penyakit jantung. Hal ini dijelaskan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.

>>> Timnas Mozambik Akui Keunggulan Skuad Garuda di Jakarta

JP, FIHA, FAsCC.

Istilah angin duduk diduga berakar dari istilah "angina" yang sudah lama digunakan dalam dunia medis. Dalam konteks penyakit jantung, istilah yang digunakan adalah angina pektoris.

Angina pektoris adalah nyeri dada akibat otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. "Angina itu adalah suatu istilah dari bahasa Yunani kuno.

Angina itu dari asal kata menyempit ataupun mencekik," jelas dr. Febtusia.

Penyebutan "angin duduk" kemungkinan muncul dari kebiasaan penderita yang kesulitan berbaring saat gejala muncul. Mereka cenderung duduk untuk mencari posisi yang lebih nyaman agar bisa bernapas lebih lega.

"Beberapa orang melihat kalau orang terkena angina biasanya dia susah untuk tiduran santai ataupun bernapas dengan nyaman. Dia berusaha untuk duduk, berusaha untuk memperbaiki posisi.

Nah, mungkin inilah muncul istilah angin duduk itu," ujar dr. Febtusia.

Meski istilahnya sudah akrab, masih banyak yang keliru memahami penyebabnya.

Salah satu kesalahan umum adalah mengaitkan angin duduk dengan masuk angin akibat terlambat makan, kebanyakan makan, atau kelelahan.

Menurut dr. Febtusia, anggapan tersebut tidak tepat. "Ini adalah suatu mitos," pungkasnya.

Mekanisme Terjadinya Angina Pektoris

Jantung memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh melalui arteri. Arteri koroner adalah 'selang' yang memasok darah ke otot jantung.

Otot jantung membutuhkan pasokan darah terus-menerus untuk bekerja. Jika aliran darah terhambat, otot jantung kekurangan oksigen, yang kemudian berakibat pada nyeri dada.

Aliran darah bisa terhambat salah satunya oleh penumpukan kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) pada dinding pembuluh darah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru