Generasi sandwich berusia 30 hingga 50 tahun menghadapi kesulitan besar dalam mempersiapkan dana pensiun. Beban finansial di usia produktif menjadi hambatan utama.
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante. id, Rista Zwestika, menjelaskan bahwa fenomena pemenuhan kebutuhan berlapis ini menjadi tantangan terbesar kelompok usia tersebut.
>>> Mathew Baker Siap Perkuat Timnas U19 Indonesia Lawan Australia
Mereka harus membiayai anak, membantu orang tua, dan membayar cicilan.
"Ini tantangan terbesar generasi usia 30-50 tahun saat ini," kata Rista. Akibatnya, banyak individu mengabaikan perencanaan masa depan demi prioritas jangka pendek.
"Banyak yang akhirnya hanya fokus pada kebutuhan hari ini dan lupa mempersiapkan masa depan," ucapnya.
Strategi Menabung dan Investasi
Rista menyarankan masyarakat menyisihkan minimal 10 hingga 20 persen pendapatan langsung untuk masa depan setelah menerima gaji. "Jangan menunggu ada sisa, karena biasanya tidak pernah ada sisa," ujarnya.
Langkah lain adalah memisahkan rekening untuk berbagai tujuan keuangan seperti dana darurat, pendidikan, pensiun, dan investasi. "Jangan dicampur," kata Rista.
Ia juga mengimbau generasi sandwich menekan laju gaya hidup agar tidak naik melebihi pertumbuhan pendapatan. "Akibatnya tidak ada ruang untuk investasi," ucapnya.
Rista mengilustrasikan keunggulan investasi sejak dini.
Investasi Rp 2 juta per bulan sejak usia 30 tahun berpotensi menghasilkan dana lebih besar daripada Rp 5 juta per bulan mulai usia 45 tahun.
"Karena perencanaan keuangan keluarga tidak bisa ditanggung satu orang saja," ucapnya. Pada 2026, risiko pensiun dinilai semakin kompleks akibat inflasi, biaya kesehatan, penuaan penduduk, serta ketergantungan antar generasi.
"Tujuan pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi tetap memiliki kemandirian finansial, martabat, dan kualitas hidup yang baik tanpa harus bergantung pada anak," ucap Rista.
Ketidakseimbangan Pendapatan dan Solusi
Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengidentifikasi akar permasalahan pada ketidakseimbangan pendapatan. "Bahkan kadang-kadang kurang," ucap Melvin.
Ia membandingkan seseorang berpenghasilan Rp 80 juta dengan beban orang tua Rp 10 juta tidak akan bermasalah. Berbeda dengan pemilik upah Rp 20 juta dengan beban yang sama.