Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak negara-negara anggota Asia Pacific Group (ASPAG) untuk memperkuat kerja sama dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan masa depan.
Langkah ini diambil sebagai respons atas perubahan lanskap dunia kerja yang dipicu oleh disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
>>> Timnas Putri Indonesia Imbangi Kamboja 1-1 di Stadion Arcamanik
Ajakan tersebut disampaikan dalam Asia Pacific Group Ministerial Meeting yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Perburuhan Internasional (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.
"Indonesia percaya, kerja sama antarnegara kini semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa dihadapi sendiri.
Kekuatan kita ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar," kata Yassierli dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).
Kawasan Asia Pasifik saat ini menghadapi dinamika ketenagakerjaan yang rumit, mulai dari pengangguran hingga tingginya angka pekerja informal.
Selain itu, terdapat risiko pergeseran lapangan kerja akibat kemajuan AI dan mendesaknya kebutuhan akan kebijakan ketenagakerjaan inklusif.
Melalui kolaborasi ini, negara-negara anggota diharapkan dapat saling bertukar pengalaman dan formula kebijakan dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai permintaan pasar industri.
Pemerintah Indonesia menempatkan peningkatan keahlian sebagai agenda prioritas untuk mengatasi ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan industri.
>>> Roberto Martinez Hadapi Tantangan Kelola Skuad Bintang Timnas Portugal
Program Pemagangan dan Pelatihan Vokasi Nasional
Salah satu strategi konkret yang dijalankan adalah meluncurkan Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi.
Peserta mendapatkan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan langsung di sektor industri, disertai tunjangan uang saku dari pemerintah yang setara dengan upah minimum.
Target sasaran Program Pemagangan Nasional pada tahun ini dirancang mampu menjangkau hingga 150.000 peserta.
Pemerintah juga menggulirkan Program Pelatihan Vokasi Nasional dengan sasaran lulusan sekolah menengah atas dan sederajat, yang ditargetkan menyerap 300.000 peserta.
Yassierli menegaskan bahwa kedua program strategis tersebut dibangun dengan prinsip inklusivitas yang kuat.
Akses peningkatan keahlian ini dibuka secara setara bagi kelompok perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat yang tinggal di kawasan terpencil dan perbatasan.
Langkah penguatan keterampilan masa depan ini krusial mengingat pergeseran dunia kerja sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat awam.
>>> Tabung Oksigen Terpental 100 Meter, Rumah Warga Cilincing Rusak Parah
Para pencari kerja kini membutuhkan pelatihan yang selaras dengan dinamika industri, lulusan baru memerlukan portofolio kerja, pekerja lama butuh peningkatan kompetensi agar tetap relevan, dan kelompok rentan memerlukan keadilan akses pasar kerja.