Menghilangkan gula sepenuhnya dari pola makan sering dianggap langkah sehat. Namun, penelitian terbaru justru menemukan dampak sebaliknya.
Studi yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan ENDO 2026 di Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa diet tanpa sukrosa pada pola makan rendah lemak dapat mengganggu kesehatan usus dan metabolisme.
>>> Telkom Indonesia Terbitkan Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Perkuat ESG
Temuan ini dipublikasikan oleh The Endocrine Society pada 14 Juni 2026. Para ilmuwan dari Dasman Diabetes Institute di Kuwait mengamati dua kelompok tikus selama 16 minggu.
Kelompok pertama mendapat diet rendah lemak tanpa sukrosa sama sekali, sementara kelompok kedua mengonsumsi diet rendah lemak yang masih mengandung sukrosa.
Peneliti mengevaluasi toleransi glukosa, sensitivitas insulin, hormon metabolik, mikrobioma usus, serta peradangan pada usus besar dan hati.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Tikus yang menjalani diet tanpa sukrosa mengalami kontrol gula darah yang memburuk, resistensi insulin, ketidakseimbangan bakteri usus, peradangan saluran pencernaan, hingga perubahan terkait penyakit hati berlemak.
Kepala Departemen Imunologi dan Mikrobiologi Dasman Diabetes Institute, Rasheed Ahmad, PhD, mengatakan bahwa menghilangkan sukrosa sepenuhnya dari diet rendah lemak dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga.
"Menghilangkan sukrosa sepenuhnya dari diet rendah lemak secara tak terdefinisi dapat mengganggu kesehatan usus dan memicu peradangan serta gangguan metabolisme," ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, keseimbangan nutrisi jauh lebih penting daripada sekadar menghilangkan gula. Kesehatan metabolik tidak hanya dipengaruhi jumlah gula, tetapi juga oleh kondisi mikrobioma usus.
>>> Mantan KSAL Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Penelitian ini menemukan perubahan komposisi mikrobiota usus pada kelompok tanpa sukrosa. Kondisi tersebut kemungkinan berkontribusi terhadap munculnya peradangan dan gangguan metabolisme.
Ahmad menambahkan bahwa tubuh memerlukan keseimbangan karbohidrat untuk menjaga stabilitas sistem imun dan kesehatan usus. Pendekatan pembatasan gula perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
"Penelitian ini dapat memengaruhi rekomendasi pola makan di masa depan dengan menekankan pentingnya menjaga mikrobioma usus yang sehat, bukan hanya berfokus pada pembatasan gula," katanya.
Dalam jangka panjang, temuan ini dapat membantu pengembangan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola gangguan metabolik, penyakit hati berlemak, serta kondisi peradangan kronis.
Peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini tidak berarti konsumsi gula berlebihan menjadi aman. Sebaliknya, penelitian tersebut menyoroti pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan.
Direktur Jenderal Sementara Dasman Diabetes Institute, Faisal Hamed Al-Refaei, MD, mengatakan penelitian semacam ini penting untuk memperdalam pemahaman mengenai penyakit metabolik.
Menurutnya, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan atau nutrisi tertentu, melainkan oleh keseimbangan pola makan secara menyeluruh.
>>> Universitas Michigan Batalkan Pertandingan Voli Lawan Texas Tech Imbas Skandal Judi
Strategi menjaga kesehatan sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghilangkan gula sepenuhnya, tetapi juga memperhatikan keberagaman dan keseimbangan nutrisi yang dikonsumsi setiap hari.
