Perdagangan aset keuangan di Asia Tenggara tumbuh pesat sepanjang semester pertama 2026. Banyak pelaku pasar beralih ke emas dan perak sebagai instrumen investasi dan perdagangan jangka pendek.
Laporan pasar komoditas kuartal I 2026 dan data World Gold Council (WGC) menunjukkan lonjakan permintaan aset keras di kawasan ini.
>>> Manchester United Rekrut Vincent Joseph dari Liverpool
Permintaan koin dan emas batangan tumbuh dua digit secara tahunan pada awal tahun.
Data agregat industri broker komoditas dan platform fintech regional mencatat jumlah pengguna aktif yang bertransaksi emas dan perak pada semester I-2026 melonjak rata-rata 35 hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Emas dan Perak sebagai Safe Haven
Partner Relationship Manager JustMarkets Yasser Mansour menjelaskan bahwa emas dan perak berperan penting sebagai instrumen aman saat pasar bergejolak.
Karakteristik ini masih relevan dengan kondisi perekonomian global saat ini.
"Aset safe haven semakin banyak digunakan untuk mengunci nilai selama ketidakpastian pasar, menghasilkan keuntungan di saat tekanan pasar, dan melindungi taruhan pasar yang lebih berisiko," ujar Mansour dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Logam mulia tidak hanya berfungsi mempertahankan nilai kekayaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai langkah diversifikasi efektif ketika pasar saham atau aset berisiko lainnya tertekan.
Indonesia Menjadi Motor Utama Pertumbuhan
Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penggerak utama lonjakan investasi logam mulia di Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan WGC kuartal I-2026, permintaan koin dan emas batangan di Indonesia melesat 47 persen secara tahunan hingga mencapai 23,6 ton.
Capaian tersebut menorehkan rekor baru sebagai salah satu permintaan kuartalan tertinggi dalam sejarah domestik.
Pertumbuhan ini menunjukkan ketertarikan terhadap logam mulia datang dari investor jangka panjang dan trader yang mengincar keuntungan harian.
Meskipun dikenal sebagai aset stabil, pergerakan harga emas memiliki volatilitas tinggi yang memikat trader jangka pendek.
Faktor pendorong harga meliputi isu inflasi, kebijakan suku bunga, dan dinamika politik global.