Pinjaman online (pinjol) semakin banyak digunakan oleh warga Indonesia untuk kebutuhan produktif, seperti modal usaha dan biaya pendidikan.
Perusahaan fintech Julo misalnya, telah menyalurkan pinjaman lebih dari Rp 28 triliun kepada 3,3 juta pengguna di seluruh Indonesia.
>>> Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Netizen Ucapkan Terima Kasih untuk QRIS
Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 6,3 triliun digunakan untuk modal usaha dan Rp 1,89 triliun untuk kebutuhan pendidikan.
Sisanya dipakai untuk peningkatan kualitas hidup, seperti kesehatan, renovasi rumah, dan kebutuhan rumah tangga.
Julo merupakan penyelenggara fintech lending yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Presiden Direktur Julo, Harri Suhendra, mengatakan risk-based pricing menjadi fondasi untuk memperluas akses kredit secara bertanggung jawab.
>>> Mitchell Baker Cetak Hat-trick Perdana, Lanjutkan Tradisi Pemain Indonesia Vs Kamboja
Sistem penilaian risiko mandiri memungkinkan Julo menekan biaya hingga mulai dari 0,1% per hari, jauh di bawah batas atas regulasi.
Tren Pinjaman Online Meningkat
Per Maret 2026, outstanding pembiayaan pinjaman online mencapai Rp 101,3 triliun, naik 26,25% dibanding tahun lalu.
Namun, pemahaman masyarakat tentang fintech masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi fintech lending hanya 24,9%.
Angka itu jauh di bawah tingkat literasi keuangan nasional yang mencapai 66,46% dan sektor perbankan 65,50%.
>>> Punya Skill AI? Ini 5 Pekerjaan dengan Peluang Karier Menjanjikan
OJK mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fintech ilegal yang tidak memiliki izin, bunga tinggi, penagihan tidak etis, dan akses data pribadi tanpa izin.

