Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu aktivitas manusia, tetapi juga mulai digunakan dalam penelitian hewan.
Ilmuwan dari Emory University dan Georgia Institute of Technology berhasil mengembangkan sistem AI yang mampu menguji kecerdasan monyet capuchin liar.
>>> Samsung: Kelangkaan Chip Diprediksi Memburuk Hingga 2028
Penelitian yang dipublikasikan di The American Journal of Primatology ini memperkenalkan CapuchinAI, sebuah sistem yang dapat mengenali monyet capuchin liar dan menjalankan tes kognitif secara otomatis di tengah hutan.
Sistem ini dikembangkan untuk mengatasi kesulitan peneliti dalam menguji hewan di alam liar, yang selama ini membuat penelitian kognitif lebih sering dilakukan di laboratorium.
CapuchinAI menggunakan komputer berukuran kecil, kamera, layar sentuh, dan dispenser makanan. Ketika seekor monyet mendekati perangkat, AI akan mengenalinya dan menampilkan tugas di layar.
Jika tugas berhasil diselesaikan, monyet akan mendapatkan hadiah berupa makanan.
Dalam pengujian di Taboga Forest Reserve, Kosta Rika, CapuchinAI mampu mengenali individu monyet capuchin dengan akurasi 97% setelah dilatih menggunakan foto dan video.
Para peneliti juga menemukan bahwa monyet liar relatif cepat terbiasa dengan layar sentuh dan hubungan antara menyentuh layar dengan mendapatkan makanan.
Perbedaan Gaya Belajar Monyet
Setiap monyet menunjukkan gaya belajar yang berbeda.
>>> Presiden FIFA Gianni Infantino Dekat dengan Lingkaran Donald Trump
Ada yang cepat memahami tugas, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama, bahkan ada yang mengamati monyet lain terlebih dahulu sebelum mencoba.
Dalam tahap awal penelitian, 16 monyet telah berinteraksi dengan prototipe CapuchinAI.
Peneliti kini mengembangkan sistem ini untuk menguji empat aspek kognitif: kemampuan belajar, kontrol impuls, fleksibilitas kognitif, serta memori jangka pendek dan panjang.
AI juga dapat menentukan jenis tes yang diberikan berdasarkan individu monyet yang dikenali, memungkinkan eksplorasi hubungan antara lingkungan, pengalaman individu, dan kemampuan kognitif.
Perangkat CapuchinAI dirancang agar terjangkau dan mudah diterapkan di lapangan, menggunakan Raspberry Pi dan dapat beroperasi sekitar delapan jam dengan baterai ringan.
Para peneliti berharap teknologi ini dapat diadaptasi untuk mempelajari spesies primata liar lainnya.
>>> Piala AFF: Timor Leste Akui Kekuatan Indonesia
CapuchinAI tidak menggantikan peneliti manusia, melainkan menjadi alat baru untuk mengumpulkan data kognitif secara lebih sistematis langsung dari habitat alami satwa.
