Sejumlah profesi yang identik dengan penghasilan tinggi kini terdampak perubahan besar di pasar tenaga kerja global.
Dulunya dianggap punya jenjang karier menjanjikan, kini mereka menghadapi risiko kehilangan pekerjaan yang kian besar.
>>> Ilhan Fandi: Piala AFF 2026 Sangat Penting bagi Singapura
Fenomena ini tercermin dari meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor. Efisiensi yang awalnya diperkirakan sementara, telah berkembang menjadi restrukturisasi jangka panjang di banyak perusahaan besar.
Industri teknologi, jasa keuangan, dan konsultan bisnis menjadi sektor yang paling banyak mengalami tekanan. Hal ini seiring dengan upaya perusahaan menekan biaya operasional dan melakukan efisiensi.
AI Jadi Ancaman Nyata bagi Pekerja Kerah Putih
Akselerasi adopsi Kecerdasan Buatan (AI) generatif menjadi katalis utama yang mengubah lanskap ini.
AI tidak lagi hanya menggantikan pekerjaan kasar, tetapi mulai mengikis pekerjaan para pekerja kerah putih berketerampilan tinggi.
Profesi seperti analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat menengah, analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini dapat direplikasi oleh sistem AI dengan biaya lebih murah dan waktu lebih efisien.
Banyak perusahaan menyadari bahwa dengan mengintegrasikan AI, mereka dapat memangkas jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar.
>>> Vinicius Junior Perpanjang Kontrak di Real Madrid Hingga 2032
Kepala Eksekutif Janco Associates, Victor Janulaitis, menjelaskan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena dunia menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Dampak Psikologi dan Finansial bagi Pekerja
Fenomena menganggurnya pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan.
Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka.
Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering mengalami 'lifestyle inflation shock'. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.
Proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu lebih lama. Perusahaan yang melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap 'overqualified'.
>>> Marc Klok: Luka Kekalahan dari Vietnam Jadi Motivasi Hadapi Singapura
Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi demi kembali terserap ke pasar kerja yang lebih kompetitif.
