Analisis dua genom virus kuno tersebut menunjukkan keduanya hampir identik, mengindikasikan kedua individu kemungkinan terinfeksi selama wabah yang sama atau oleh strain yang sama.
Dengan membandingkan genom virus variola kuno dan modern, genom tersebut cocok dengan garis keturunan yang telah punah yang terpisah dari strain Eropa lainnya sekitar tahun 1296, tapi muncul lebih dulu sebelum strain modern.
Artinya, virus variola yang ditemukan pada mumi merupakan tahap evolusi antara strain Eropa abad pertengahan dan strain modern, yang membuktikan orang Eropa membawa cacar ke Amerika.
"Kami memberikan bukti molekuler pertama mengenai masuknya cacar ke benua Amerika melalui kolonisasi," ujar Nakagome.
"Makalah ini sangat bagus karena kita tahu dari catatan sejarah bahwa cacar berdampak sangat besar pada populasi adat di benua Amerika.
Makalah ini memberi gambaran pertama tentang patogen tersebut selama periode kolonial," kata Anne Stone, antropolog Arizona State University yang tidak terlibat dalam studi.
Genom tersebut juga menunjukkan bahwa melalui serangkaian mutasi, gen yang memungkinkan variola menginfeksi spesies selain manusia menjadi tidak aktif.
Seiring waktu, strain variola kuno jadi kurang mampu menginfeksi hewan.
"Karenanya, variola mulai fokus hanya menarget manusia," kata Bruno Romero Gonzalez, ahli biologi komputasi Trinity College Dublin, dikutip detikINET dari Live Science.
>>> Declan Rice Sambut Bruno Guimaraes di Arsenal, Ajak Damai
Peneliti berharap lebih banyak sampel virus variola kuno ditemukan di benua Amerika, guna melengkapi gambaran evolusi dan penyebaran penyakit cacar.
