Pemerintah China mulai melirik jalur pelayaran baru di kawasan Arktik untuk mengirimkan berbagai barang logistik menuju benua Eropa.
Rute maritim alternatif yang dijuluki Ice Silk Road atau Jalur Sutra Es ini memanfaatkan Northeast Passage di sepanjang pesisir utara Rusia.
>>> Alasan Thom Haye Menghilang dari Persib Pasca Juara Terungkap
Daya tarik utama dari jalur baru tersebut adalah waktu tempuh perjalanan yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan rute pelayaran tradisional.
Dalam uji coba pada 2025, kapal kargo asal China mampu menempuh perjalanan dari Ningbo-Zhoushan menuju Felixstowe, Inggris, dalam waktu sekitar 25 hari.
Sebagai perbandingan yang cukup jauh, rute pelayaran melalui Terusan Suez membutuhkan waktu sekitar 40 hari.
Sementara itu, perjalanan alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan bahkan dapat memakan waktu lebih dari 50 hari.
>>> Frenkie de Jong Dihujat Suporter Sendiri dalam Laga Pramusim
Tantangan Navigasi dan Faktor Geopolitik Arktik
Meskipun menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat, rute maritim utara ini membawa kapal melewati lingkungan pelayaran yang sangat sulit di dunia.
Suhu ekstrem serta es laut yang terus berubah dapat menyulitkan proses navigasi kapal secara signifikan.
Bahkan, kapal yang telah dilengkapi kemampuan menghadapi es tetap membutuhkan dukungan kapal pemecah es dalam kondisi tertentu.
Sebagian besar jalur Northeast Passage berada di sepanjang wilayah Arktik Rusia yang dikelola oleh Rosatom selaku perusahaan energi nuklir negara.
>>> Kenapa Populasi Nyamuk Justru Semakin Banyak Saat Musim Kemarau?
Kondisi tersebut membuat operasional Jalur Sutra Es sangat bergantung pada kerja sama dengan Rusia serta memiliki dimensi geopolitik yang kuat.
