Perusahaan di kawasan Asia Pasifik kini semakin cepat mengadopsi Artificial Intelligence untuk mendukung pekerjaan nyata dalam sistem produksi.
Di balik efisiensi tersebut, ancaman keamanan siber yang hadir dinilai jauh lebih rumit daripada gelombang teknologi sebelumnya.
Reuben Koh selaku Security Technology and Strategy Director Asia-Pacific and Japan Akamai menjelaskan bahwa AI merupakan sebuah ekosistem masif.
Ekosistem tersebut mencakup perangkat lunak, perangkat keras, data, hingga identitas manusia di dalam organisasi.
Empat Titik Lemah dan Fenomena Shadow AI
Terdapat empat area utama dalam ekosistem AI yang paling rawan dieksploitasi oleh pihak luar.
Area tersebut meliputi data pelatihan, antarmuka pemrograman aplikasi, model AI, serta identitas dan akses pengguna.
Profil risiko meningkat ketika pengguna mulai memberikan wewenang kepada AI untuk bertindak secara otonom.
Selain itu, fenomena shadow AI turut menjadi mimpi buruk bagi tim keamanan teknologi informasi perusahaan.
Fenomena ini terjadi saat karyawan secara diam-diam menggunakan alat AI eksternal tanpa persetujuan resmi.
Akamai mencatat keamanan harus dirancang sejak awal bersamaan dengan keputusan arsitektur dan performa sistem.