Pakar geomorfologi meneliti citra satelit guna menguak penyebab banjir dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet.
Bencana alam tersebut menelan korban jiwa ratusan orang serta menyebabkan ratusan warga lainnya hilang tanpa jejak.
Pengamatan awal sempat terkendala oleh awan tebal dan debu material reruntuhan yang menutupi puncak Langtang Lirung.
Citra lanjutan menunjukkan runtuhnya batuan dasar gunung yang menarik bongkahan es besar jatuh bersama material batu.
Fenomena keruntuhan masif tersebut menyeret sebagian gletser dan melontarkan material padat menuju dasar lembah.
Puing-puing material longsoran mengubur perkampungan warga setelah melintasi jalur lembah yang sempit dan curam.
Debit air Sungai Trishuli melonjak drastis dan membawa sedimen pekat hingga mengubah warna air menjadi kecokelatan.
Kawasan wisata populer Syapru Besi hancur lebur setelah diterjang arus kuat dan timbunan lumpur tebal.
Pemulihan wilayah terdampak diprediksi membutuhkan waktu bertahun-tahun akibat tingkat kerusakan yang sangat masif.
Pemanasan bumi dinilai melemahkan permafrost yang selama ribuan tahun berfungsi mengikat bebatuan dan es dataran tinggi.