⌂ Beranda › News › BNPB: 2.297 Bencana Indonesia 2026, Mayoritas Hidrometeorologi
News

BNPB: 2.297 Bencana Indonesia 2026, Mayoritas Hidrometeorologi

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang menjadi salah satu bencana hidrometeorologi dominan di Indonesia
Aksi Panggung Hindia dan Musisi Lain Soroti Bencana Karhutla 2026 Pexels
A A Ukuran Teks16px

Indonesia mencatat 2.297 kejadian bencana sepanjang 2026 hingga 5 November. Sekitar 99,2% dari total kejadian tersebut merupakan bencana hidrometeorologi.

Data itu dipaparkan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam pemaparan perkembangan bencana melalui kanal YouTube BNPB Indonesia.

BNPB merinci 1.064 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 611 banjir, 351 cuaca ekstrem, 125 kekeringan, 114 tanah longsor, serta 14 gelombang pasang dan abrasi.

Bencana geologi yang tercatat meliputi 14 gempa bumi dan empat erupsi gunung api.

Dampaknya, 428 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, 3.260 orang luka-luka, dan lebih dari 6 juta orang menderita serta mengungsi.

Mengapa Karhutla Termasuk Bencana Hidrometeorologi

Bencana hidrometeorologi berkaitan dengan fenomena atmosfer, air, dan lautan.

BMKG menjelaskan fenomena ini dapat berupa curah hujan ekstrem, banjir, kekeringan, badai, hingga kondisi cuaca yang menimbulkan kerusakan dan korban.

BNPB memasukkan karhutla sebagai bagian bencana hidrometeorologi karena kemunculan dan penyebaran api dipengaruhi suhu, kelembapan, angin, serta kondisi vegetasi yang mengering.

Artinya, ancaman tidak hanya meningkat saat musim hujan. Pada periode kering, risiko karhutla dan kekeringan justru dapat naik.

Indonesia pun menghadapi dua jenis ancaman yang perlu diantisipasi bersamaan. Saat curah hujan tinggi, banjir dan longsor dapat terjadi.

Sebaliknya, ketika curah hujan rendah dalam waktu panjang, lahan dan vegetasi mengering sehingga lebih mudah terbakar.

Sebelumnya, Berton mengatakan dinamika cuaca saat ini berlangsung cepat dan intens akibat tingginya variabilitas iklim.

"Kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca ekstrem, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujarnya dalam keterangan BNPB pada 4 November 2026.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru