PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengelola bisnis infrastrukturnya melalui pemisahan wholesale connectivity ke dalam entitas khusus InfraNexia.
Spin-off InfraNexia tahap II tersebut telah rampung sebagai bagian dari transformasi TLKM 30.
Langkah ini bertujuan membuat perusahaan lebih fokus serta membuka peluang monetisasi aset infrastruktur secara luas.
Pemecahan ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah efektif sejak bulan Januari 2026.
InfraNexia kini berfungsi sebagai neutral carrier yang melayani kebutuhan internal TelkomGroup maupun pelanggan eksternal.
Entitas tersebut mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik di berbagai wilayah.
Selain itu, terdapat sekitar 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik yang turut dikelola.
Transformasi ini mengarahkan perusahaan menuju model HoldCo-OpCo dengan delayering bisnis menjadi lima segmen.
Segmen tersebut meliputi B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others dan Ancillary.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyatakan delayering penting agar setiap grup memiliki akuntabilitas yang jelas.
Struktur baru ini membantu perusahaan mengambil keputusan strategis dengan lebih cepat.
Hingga Semester I 2026, Telkom mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun.
