Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti potensi risiko pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
Mesin AI dapat menganggap data yang salah sebagai kebenaran ketika bahan masukan tersebut tidak valid.
Teknologi AI bekerja dengan mengandalkan data, model, serta proses pengambilan keputusan yang spesifik.
Ketika data awal mengandung kekeliruan, mesin tetap memprosesnya hingga menghasilkan informasi meyakinkan.
Peringatan tersebut disampaikan Nezar dalam sebuah diskusi panel di Universitas Katolik Atma Jaya.
Risiko itu dinilai semakin serius manakala AI dipakai untuk memproduksi karya jurnalistik.
Penggunaan chatbot untuk menyusun berita peristiwa dapat terjadi tanpa melalui proses peliputan langsung.
Padahal, dunia jurnalistik menuntut tahapan observasi, wawancara, verifikasi, hingga penyuntingan.
Hasil olahan AI yang tanpa verifikasi berpotensi mengecoh publik dan dikonsumsi sebagai fakta.
World Economic Forum menempatkan misinformasi, disinformasi, serta hoax sebagai risiko global.
Posisi tersebut berada di urutan kedua setelah isu perubahan iklim yang membayangi dunia.
Media massa dipandang tetap memegang peran penting sebagai penyaring informasi bagi masyarakat.
Tantangan utama bagi jurnalisme masa kini adalah menjaga prinsip melaporkan kebenaran secara utuh.
