Sebagian anak dan remaja kini memanfaatkan kecerdasan buatan tidak hanya untuk belajar. Mereka juga menjadikannya sebagai tempat berbagi cerita pribadi.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang ingin tetap menjadi ruang aman bagi anak.
Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti membagikan pandangannya terkait hal tersebut.
Tiga Hal yang Perlu Dipahami Orang Tua
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah memastikan anak merasa dicintai secara apa adanya. Kebutuhan dasar anak adalah menerima kasih sayang tanpa syarat.
Ketika mendengar cerita yang mengejutkan, orang tua diimbau agar tetap tenang. Respons pertama sebaiknya tidak langsung berupa penghakiman atau kemarahan.
Reaksi yang penuh penghakiman justru membuat anak mencari tempat lain yang lebih aman, termasuk kepada kecerdasan buatan. Langkah kedua adalah memahami gejolak emosi dan fisik pada masa pra-remaja.
Orang tua perlu aktif belajar mengenai perubahan yang dialami anak pada fase pubertas. Pemahaman ini membantu mencegah anggapan keliru bahwa perilaku anak merupakan bentuk pembangkangan.
Hal terakhir berkaitan dengan cara membangun kedekatan dan koneksi yang intim. Orang tua perlu menghindari metode interogasi saat mencoba berkomunikasi dengan remaja.