Kehadiran kecerdasan buatan atau AI diprediksi bakal mengubah berbagai jenis pekerjaan secara signifikan di masa depan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seluruh profesi manusia akan hilang sepenuhnya.
Head of Asia Pacific Zoom, Carlos Quaderi, menyebutkan bahwa pekerjaan yang bersifat administratif atau berbasis proses akan merasakan dampak paling besar.
Hal tersebut disampaikannya dalam sesi wawancara di kawasan Pacific Place, Jakarta Selatan.
Menurut Carlos, perkembangan teknologi ini memang berpotensi mengubah atau menghilangkan sejumlah peran yang ada saat ini.
Kendati demikian, inovasi tersebut juga diyakini mampu memunculkan berbagai jenis pekerjaan baru di industri.
Ia mencontohkan transformasi di sektor telekomunikasi yang dulunya mengandalkan operator telepon hingga pekerja jaringan kabel.
Seiring berjalannya waktu, sebagian peran tersebut pupus namun industri tetap tumbuh dengan variasi profesi yang berbeda.
Dampak dari teknologi disruptif semacam ini dinilai akan terus berlanjut terhadap peran manusia.
Oleh karena itu, para tenaga kerja diimbau untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi pergeseran tren tersebut.
Kemampuan beradaptasi dianggap sebagai keterampilan krusial mengingat perjalanan pemanfaatan AI masih sangat panjang.
Bentuk penerapan teknologi ini dalam beberapa tahun ke depan diprediksi akan jauh berbeda dibanding kondisi saat ini.
Peluang kerja baru juga diproyeksikan lahir untuk mengelola, mengawasi, serta memastikan tata kelola AI berjalan optimal.
Manusia tetap akan berada di dalam sistem untuk mengurus aspek tata kelola tersebut.
Tantangan utamanya bukan sekadar menghindari teknologi, melainkan bagaimana pekerja mampu menyesuaikan diri.
Kunci keberhasilan terletak pada tingkat adaptabilitas serta fokus pada pekerjaan yang mengandalkan elemen manusia.
