Arab Saudi mengalokasikan anggaran besar untuk sektor militer dan berstatus sebagai negara pembelanja senjata terbesar kedelapan di dunia.
Kendati demikian, serangan dari kelompok Houthi terbukti sangat sulit diredam oleh kerajaan tersebut.
Rudal milisi tersebut sempat menghantam kawasan bandara di Riyadh dan memicu jatuh korban jiwa.
Thomas Juneau selaku analis keamanan dari Universitas Ottawa menyatakan wilayah Arab Saudi sangat luas.
Kondisi itu membuat mereka mustahil untuk terus-menerus mempertahankan seluruh wilayah dari setiap ancaman serangan.
Pemerintah Arab Saudi lantas menggelar penyelidikan guna mencari tahu penyebab kegagalan sistem pertahanan udara mencegat rentetan drone dan rudal.
Pemeriksaan awal menunjukkan Houthi lebih dulu mengerahkan sejumlah pesawat nirawak untuk membuka jalur.
Langkah tersebut disusul dengan kombinasi rudal jelajah dan rudal balistik menuju Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Houthi mempunyai rudal balistik canggih yang dilengkapi hulu ledak dengan kemampuan bermanuver di udara.
Situasi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi sistem rudal pencegat Patriot maupun perangkat pertahanan lain milik Arab Saudi.
Efektivitas pertahanan udara modern dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis seperti lintasan, kecepatan, serta ketinggian.
Rudal balistik umumnya memakai lintasan tinggi yang dapat terpantau radar jarak jauh.
Sebaliknya, rudal jelajah mampu terbang lebih rendah sehingga jauh lebih sulit untuk diidentifikasi.
Di sisi lain, drone membawa tantangan tersendiri karena berukuran lebih kecil dan bergerak lambat.
Serangan gabungan semacam ini terbukti mampu membebani cakupan radar serta sistem komando pertahanan secara drastis.
