⌂ Beranda › News › Kerusakan Ekologis Akibat Kebakaran Lahan Gambut di Kalimantan
News

Kerusakan Ekologis Akibat Kebakaran Lahan Gambut di Kalimantan

Ilustrasi asap dari kebakaran lahan gambut
Kebakaran Hutan Papua Diingatkan Netizen Turut Melanda Wilayah Luas Pexels
A A Ukuran Teks16px

Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar menghanguskan vegetasi serta pepohonan yang tumbuh di bagian permukaan.

Pada ekosistem lahan gambut, kobaran api ternyata mampu membara secara tersembunyi di bawah permukaan tanah.

Proses tersebut menghabiskan lapisan organik yang terbentuk secara perlahan selama ratusan hingga ribuan tahun.

Gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan dalam kondisi basah yang mengalami proses penguraian secara tidak sempurna.

Ketika material gambut mengalami kekeringan, tumpukan sisa tumbuhan itu berubah menjadi bahan bakar yang mudah dilalap api.

Bahkan, api dapat terus bertahan di dalam tanah meskipun kobaran api yang tampak di permukaan telah berhasil dipadamkan.

Penelitian dari University of Melbourne bersama peneliti kehutanan Indonesia pernah mengkaji fenomena ini di Kalimantan Tengah.

Studi dalam jurnal Fire MDPI pada 2021 itu mencatat penurunan permukaan lahan sekitar 21-24 cm dalam kurun waktu hampir sebulan.

Penurunan tersebut diakibatkan oleh terbakarnya lapisan gambut, akar tanaman, rimpang pakis, serta material organik tanah.

Dampak karhutla dengan demikian tidak bisa hanya diukur dari seberapa luas area vegetasi di atas tanah yang hangus terbakar.

Pembakaran lapisan gambut turut memicu pelepasan karbon yang selama ini tersimpan di dalam material organik tersebut.

Pemulihan lahan pascakebakaran juga memerlukan waktu panjang dan tidak otomatis selesai ketika vegetasi hijau mulai tumbuh kembali.

Upaya menjaga kondisi lahan gambut agar tetap basah menjadi langkah krusial untuk menekan risiko kemunculan api.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru