Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik dan ekonomi yang terasa makin ketat bagi sebagian warga, kabar tentang benda kecil bernilai fantastis tentu mudah memancing imajinasi.
Apalagi momen Idul Adha menghadirkan ribuan bahkan jutaan sapi yang dipotong hampir bersamaan di seluruh Indonesia. Peluang itu terasa nyata, meski sebenarnya kemungkinan menemukan batu empedu tetap kecil.
Secara medis, batu empedu adalah endapan cairan pencernaan yang mengeras di kantong empedu sapi. Tidak semua sapi memilikinya.
Batu empedu lebih sering ditemukan pada sapi berusia tua. Sementara peternakan modern cenderung memotong sapi pada usia muda agar produksi daging lebih efisien. Akibatnya, pasokan batu empedu alami semakin langka.
Kelangkaan itulah yang membuat nilainya melambung.
Permintaan terbesar datang dari Cina dan sejumlah negara Asia Timur. Dalam pengobatan tradisional Cina, batu empedu sapi dikenal sebagai Niu Huang dan digunakan sebagai bahan ramuan Angong Niuhuang Wan.
Ramuan itu dipercaya membantu penanganan stroke, gangguan kesadaran akibat demam tinggi, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
Kepercayaan terhadap khasiatnya sudah berlangsung lama. Bahkan ketika ilmuwan di Cina mulai mengembangkan batu empedu versi kultur di laboratorium, banyak praktisi pengobatan tradisional tetap menganggap versi alami lebih bernilai.
Dari situlah rantai ekonomi batu empedu terus hidup.
Di Indonesia, sebagian besar warga sebenarnya baru mengenal nilainya lewat media sosial. Tetapi internet bekerja dengan cara yang unik. Sekali sebuah cerita dianggap menarik, ia bisa berubah menjadi demam kolektif dalam waktu singkat.
Video satu menit tentang batu empedu mampu memancing ribuan komentar. Orang saling berbagi pengalaman, dugaan harga, sampai tips mengenali batu empedu asli.
Ada yang menyebut warnanya kehijauan. Ada yang bilang cokelat tua. Sebagian mengatakan batu empedu asli akan terasa ringan dan keras saat dipegang.