Pasar keuangan dalam negeri mengalami tekanan besar akibat derasnya arus keluar dana asing dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Penurunan kepercayaan investor terhadap kepastian kebijakan domestik menjadi pemicu utama fenomena yang dikenal sebagai "Sell Indonesia".
Investment Specialist KISI Sekuritas Ahmad Faris Mu'tashim menilai faktor internal lebih dominan dibandingkan gejolak global dalam memengaruhi keputusan investor.
Menurutnya, kebijakan pemerintah yang keliru menjadi mekanisme koreksi kinerja.
Ahmad Faris Mu'tashim menyebut program pemerintah sebenarnya memiliki tujuan baik. Namun, pola komunikasi yang kurang efektif membuat pelaku pasar was-was dan menimbulkan ketidakpastian.
Regulasi yang dirilis pada momentum tidak tepat juga menjadi sorotan. Contohnya, pengetatan RKAB di tengah pelemahan rupiah membatasi kapasitas produksi saat ekspor seharusnya bisa dimanfaatkan untuk windfall.
Perubahan regulasi yang mendadak meningkatkan risk premium. Pelaku pasar harus memperhitungkan risiko tambahan yang sebenarnya bisa dihindari jika kebijakan dikomunikasikan dengan baik.
Kinerja Pasar Saham Terburuk
Media asing The Straits Times melaporkan bahwa pasar saham Indonesia mencatat kinerja terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg sepanjang 2026.
Head of Research K2 Asset Management George Boubouras menyoroti aktivitas perdagangan di Asia dengan istilah "sell Indonesia".
Asia Head of Rates and Foreign Exchange Strategy J. P.
Morgan Private Bank Tang Yuxuan menambahkan bahwa ketidakpastian politik domestik membuat investor global memilih menunggu hingga arah kebijakan lebih dapat diprediksi.
Pemerintah berargumen bahwa kebijakan agresif diperlukan untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan meningkatkan posisi dalam rantai pasok global.
Meski sektor riil dan konsumsi masih positif, kepercayaan investor tetap tertekan.