Pilihan tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat atau memperlambat pertumbuhan korporasi pada paruh kedua tahun ini.
"Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no.
Kenapa?
Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," ujar Chatib Basri menjelaskan perbedaan krisis moneter masa lalu dengan kondisi saat ini.
Langkah mitigasi berupa lindung nilai atau pemindahan aset ke mata uang dolar AS telah dilakukan oleh kelompok masyarakat menengah ke atas serta korporasi untuk mengantisipasi depresiasi.
Kondisi ini membuat tekanan ekonomi bergeser ke kelompok menengah ke bawah akibat efek berantai kenaikan harga pangan impor yang memerlukan waktu pemulihan lebih lama.
Pemerintah memerlukan intervensi perlindungan sosial untuk menjaga stabilitas konsumsi masyarakat lapisan bawah tersebut.
>>> Kevin De Bruyne Nyatakan Siap Bela Belgia di Piala Dunia 2026
Secara umum, kemerosotan nilai tukar ini dinilai tidak akan menyeret Indonesia ke dalam resesi ekonomi karena target pertumbuhan pada level 4,5 sampai 5 persen masih dianggap sangat baik dalam skala global.