⌂ Beranda News Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi

Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi

Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi
Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS
A A Ukuran Teks16px

Tanpa insentif yang cukup menarik, eksportir berpotensi tetap memilih menyimpan devisa dalam dollar AS sehingga dampaknya terhadap penguatan rupiah menjadi terbatas.

Karena itu, CORE menilai pemerintah perlu memperkuat insentif agar eksportir terdorong mengonversi devisa ke rupiah.

Salah satunya melalui peningkatan daya tarik instrumen rupiah, pemberian insentif perpajakan, serta pendalaman pasar lindung nilai agar pelaku usaha tidak perlu menimbun dollar AS sebagai perlindungan terhadap risiko kurs.

Selain itu, cakupan kebijakan juga dinilai perlu diperluas secara bertahap ke sektor ekspor non-sumber daya alam agar basis pasokan valas semakin besar.

>>> Jadwal Playoff MPL ID S17 10 Juni 2026: Bigetron vs Evos Esports

CORE mencontohkan langkah Malaysia pada 2024 yang mengoordinasikan badan usaha negara dan dana investasi pemerintah untuk memulangkan serta mengonversi pendapatan luar negeri secara konsisten ke ringgit.

Menurut kajian tersebut, Indonesia memiliki instrumen yang dapat memainkan peran serupa melalui Danantara dan BUMN yang memiliki aset maupun pendapatan valas di luar negeri.

"Danantara dapat berperan sebagai penyeimbang arus valas, bukan sekadar pengelola investasi.

Konversi pendapatan luar negeri BUMN secara terjadwal menambah pasokan dolar di pasar domestik saat tekanan memuncak," ungkap CORE.

Memulihkan Kredibilitas Fiskal

Di luar aspek pasokan devisa, CORE menilai akar persoalan yang lebih sulit ditangani justru terletak pada persepsi pasar terhadap kredibilitas fiskal pemerintah.

Kajian itu mencatat tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Moody's, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings, mengeluarkan peringatan terhadap Indonesia pada awal 2026.

Ketiganya menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, menurunnya prediktabilitas kebijakan ekonomi, hingga kekhawatiran terhadap konsistensi tata kelola fiskal.

CORE mencatat skor tata kelola World Governance Indicators turun dari 49,2 menjadi 43,6.

Sementara rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara mencapai 17,1 persen, jauh di atas median negara berperingkat BBB yang sebesar 8,8 persen.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM