Rumah BUMN BRI menaungi sekitar 11.000 UMKM, dengan 6.000 di antaranya aktif mengikuti program pemberdayaan. Program tersebut mencakup pelatihan, pengurusan legalitas, dan fasilitasi perkembangan usaha.
"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas.
Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelas Jajang.
UMKM yang baru bergabung akan diarahkan mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya menjadi rapor awal yang memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah dari usaha tersebut.
"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.
Jajang menambahkan bahwa bersama BRI, UMKM tak hanya tumbuh tetapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan.
"Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujarnya.
Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 UMKM aktif mengikuti program pelatihan dan pendampingan.
"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global.
>>> Argentina Hadapi Kutukan Ranking 1 FIFA di Piala Dunia 2026
Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," pungkasnya.
