"Menghadapi lawan seperti itu dibutuhkan fokus diisiplin tinggi, dan stamina kuat. Sedikit saja buat kesalaham bisa fatal," imbuh Kesit.
Kesit juga menambahkan bahwa kelengahan kecil di menit-menit akhir pertandingan menjadi pembeda hasil akhir.
Indonesia dinilai sudah bermain solid sebelum gol tunggal lawan tercipta akibat penurunan konsentrasi di fase akhir laga.
"Itulah yang dialami Indonesia, di saat bisa bertahan dari serangan-serangan lawan hingga menit-menit akhir pertandingan. Pada akhirnya sedikit kesalahan berbuah gol tinggal dari lawan," ujar Kesit.
Faktor kebugaran fisik juga disoroti sebagai aspek yang memengaruhi performa stamina pemain di lapangan.
Indonesia dinilai menguras energi lebih besar di fase grup dibandingkan Australia yang melewati jumlah pertandingan lebih sedikit.
"Fisik para pemain benar-benar terkuras kendati mampu bermain baik dan terus mencoba meladeni permainan lawan," kata Kesit.
Menurutnya, jadwal pertandingan di babak penyisihan Grup A yang dihadapi Indonesia tergolong lebih berat karena harus menghadapi tiga tim.
Kondisi ini berbeda dengan Australia yang berada di grup dengan jumlah laga yang relatif lebih ringan.
"Dibandingkan Australia, mereka bermain lebih sedikit di fase grup. Hanya dua laga relatuf lebih ringan, Kamboja dan Filipina.
>>> BMW Perkenalkan M Concept, Cetak Biru Desain Mobil Listrik Masa Depan
Sedangkan, Indonesia tiga laga dan terbilang lumayan berat, yakni Myanmar, Timor-Leste, Vietnam," pungkas Kesit.
