Josua menilai investor sebaiknya tetap defensif, tetapi tidak panik menghadapi kondisi pasar saat ini.
Menjual seluruh aset Indonesia ketika harga telah terkoreksi dalam bukan keputusan yang tepat.
Namun, meningkatkan eksposur risiko secara agresif juga belum disarankan.
“Strategi yang lebih seimbang adalah menjaga likuiditas, memperbesar porsi instrumen jangka pendek, melakukan pembelian bertahap, dan memastikan portofolio tidak terlalu terkonsentrasi pada satu aset atau satu mata uang,” terang dia.
Untuk investor konservatif, porsi investasi lebih besar disarankan ditempatkan pada pasar uang, deposito, dan SBN tenor pendek.
Investor moderat dapat mulai masuk secara bertahap ke SBN tenor menengah dan saham pilihan.
Sementara itu, investor agresif dapat memanfaatkan koreksi pasar untuk mengoleksi saham berkualitas tinggi dengan tetap menerapkan batas risiko yang jelas.
Bagi investor yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dollar AS, seperti biaya pendidikan, impor, atau transaksi luar negeri, kepemilikan sebagian aset dalam mata uang asing juga dinilai penting sebagai instrumen lindung nilai.
Budi Frensidy juga mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi.
“Diversifikasi menjadi semakin penting, baik antar instrumen maupun mata uang,” ucap Budi.
Ia menyarankan investor tetap menjaga likuiditas.
Namun, koreksi pasar dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap pada aset berkualitas.
Investor konservatif dapat meningkatkan porsi pasar uang dan obligasi jangka pendek.
>>> Mahasiswa UBK Demo di Medan Merdeka Selatan, Pengendara Diimbau Pilih Jalur Alternatif
Investor jangka panjang dapat mulai mempertimbangkan pembelian bertahap pada saham maupun obligasi yang sudah memiliki valuasi menarik.
