Penerbitan surat utang ini terbagi ke dalam dua jangka waktu.
Tenor 5 tahun senilai US$ 750 juta dengan imbal hasil 5,35% yang jatuh tempo pada 2031, serta tenor 10 tahun senilai US$ 750 juta berimbal hasil 5,95% yang jatuh tempo pada 2036.
"Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia, ini tinggi, dan ini terbukti, dan ini real ya, dan ini real.
Kenapa?
Karena tanggal 11 (Juni) kemarin kita sudah signing, dan tanggal 18 (Juni) dana-nya akan masuk ke dalam rekening Danantara," pungkasnya.
Rosan menambahkan bahwa perolehan tingkat imbal hasil di bawah perkiraan pasar ini diraih di tengah situasi pasar modal domestik dan nilai tukar rupiah yang sedang tertekan.
"Danantara melakukan kunjungan ke beberapa negara sejak dimulai tanggal 3 Juni. Itu dari Hongkong, Singapura, kemudian juga ke Boston, ada yang ke London dan New York.
>>> Polisi Ungkap Motif Penculikan Lansia di PIK: Urusan Asmara Tak Direstui
Memang di New York itu yang saya mimpin secara langsung," kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6).
Pihaknya menjelaskan bahwa investor global memiliki orientasi jangka panjang dan melihat momentum penurunan harga saham dalam negeri saat ini sebagai kesempatan untuk masuk ke pasar Indonesia.
"Dari rencana 1 miliar dolar AS yang kami capai, bookbuilding yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar AS.
Sehingga melihat book building yang begitu tinggi, ada kami meng-upsize atau meningkatkan dari USD 1 miliar menjadi 1,5 miliar USD," ucap Rosan.
Kondisi tingginya kepercayaan pemodal global ini diharapkan mampu mendorong pembalikan arah instrumen pasar keuangan Indonesia ke tren yang positif.
"Karena appetite atau book building atau penawar yang masuk ke situ tinggi, akhirnya kami bisa closing yang 5 tahun di 5,35%, yang 10 tahun di 5,95%," ucap Rosan.
