Prosesi pemotongan kue pernikahan kini bergeser dari sekadar ritual menjadi pengalaman interaktif. Pasangan masa kini lebih menginginkan kue asli yang dapat langsung dinikmati oleh para tamu undangan.
Pergeseran preferensi ini mendorong vendor mengubah tren visual dan komposisi kue. Desain kaku mulai digantikan potongan kontemporer, sementara aktivitas pemotongan kue dieksplorasi menjadi lebih menarik di tengah resepsi.
>>> Suzuki Indonesia Beri Sinyal Luncurkan SUV Baru, Diduga XL7 Facelift
Pendiri Misoul Cake, Stella, menjelaskan bahwa kue buatan atau dummy yang sebelumnya umum digunakan untuk dokumentasi foto kini mulai ditinggalkan.
"Nah sekarang orang lebih suka yang bisa dimakan," ujarnya.
Minat terhadap kue asli sebenarnya sudah ada sejak lama, namun sempat terputus akibat pandemi COVID-19. Pembatasan saat itu memaksa vendor dan pengantin beralih ke kue replika demi kepraktisan.
Pendiri Sweetsalt Wedding Cake, Sherly, menambahkan bahwa tren ini kembali menguat. "Nah sekarang itu kembali lagi tren-tren orang mau makan si real cake," tuturnya.
Tingginya permintaan kue asli juga didorong oleh keinginan pasangan untuk menciptakan aktivitas unik yang menghibur. Calon pengantin antusias menciptakan memori baru, salah satunya dengan menggunakan Italian cake.
Penggunaan Italian cake seringkali dibarengi aktivitas seperti menaburkan buah atau gula, atau menggunakan gelas anggur untuk mengambil kue.
"Because mereka tuh suka activity-nya," ungkap Sherly.
Pamor Italian Cake dan Tiramisu Tower
Keinginan menyajikan hidangan manis kepada tamu melambungkan pamor Italian cake dan long cake ke urutan teratas jenis kue pernikahan yang diminati tahun ini.
>>> Luis de la Fuente Pertahankan Unai Simon di Timnas Spanyol, Abaikan David Raya
Penyajian Tiramisu Tower dalam porsi tunggal menawarkan kepraktisan.
"Jadi dia pakai cup gitu ditumpuk, isinya tiramisu, dan orang bisa langsung makan gitu loh, jadi enggak cuma sebagai dekorasi," terang Stella.
