Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil MSCI Market Accessibility Review pada Kamis (18/6/2026) waktu Amerika Serikat.
Pengumuman ini menjadi sorotan utama pelaku pasar modal di Indonesia.
>>> Chelsea Bersaing dengan Manchester City dan Inter untuk Bek Atalanta Marco Palestra
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu'tashim, menyebut sektor perbankan diproyeksikan menjadi penerima manfaat paling besar jika hasil evaluasi memberikan sentimen positif.
"Tentu yang pertama dituju adalah sektor perbankan sebagai saham yang paling likuid," ujar Faris kepada Kompas. com, Senin (15/6/2026).
Aliran dana investor asing kemudian berpotensi mengalir ke sektor ritel. Sektor ini mencerminkan prospek jangka panjang perekonomian nasional, termasuk bonus demografi Indonesia.
Dua Skenario Utama
Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, menyebutkan dua skenario utama yang menjadi perhatian.
Skenario pertama adalah perpanjangan pembekuan atau status freeze perubahan komposisi indeks saham Indonesia yang sudah berlaku sejak awal tahun 2026.
"Pengumuman review MSCI di tanggal 18 Juni memang menjadi perhatian besar.
Skenario negatifnya ada dua, pertama jika status freeze diperpanjang, dampaknya kemungkinan hanya menjadi sentimen negatif jangka pendek karena pasar sudah mem-price in isu ini sejak lama," ujar Azharys kepada Kompas.
com, Rabu (17/6/2026).
Skenario kedua adalah potensi penurunan kelas pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Namun, peluang terjadinya skenario terburuk tersebut dinilai relatif kecil.
>>> Ceko Hadapi Afrika Selatan di Laga Kedua Piala Dunia 2026
"Kedua, skenario terburuknya adalah jika Indonesia turun kelas ke frontier market, yang otomatis memicu outflow masif dari seluruh konstituen.
Namun, pandangan kami, Indonesia tidak akan turun ke frontier market. Jika sampai ada tekanan teknis, sektor yang paling sensitif terdampak adalah perbankan," paparnya.
