⌂ Beranda News Gelisah Penumpang Menghadapi Wacana Tarif Baru Transjakarta

Gelisah Penumpang Menghadapi Wacana Tarif Baru Transjakarta

Gelisah Penumpang Menghadapi Wacana Tarif Baru Transjakarta
Penumpang menunggu bus Transjakarta di halte
A A Ukuran Teks16px

Antrean di halte Transjakarta Kalideres mulai mengular. Orang-orang berdiri seolah sudah hafal posisi masing-masing.

Raka Pratama berdiri di barisan tengah. Tas ransel hitamnya tampak penuh, menggantung di satu bahu.

>>> Jadwal Timnas MLBB Indonesia di Kualifikasi Asian Games 21 Juni 2026

Lelaki 29 tahun itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di kawasan Sudirman. Ia tinggal di kontrakan kecil di perbatasan Jakarta Barat dan Tangerang bersama istrinya.

Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hampir tiga jam di jalan. Transjakarta bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan satu-satunya sistem yang masih masuk dalam hitungan hidupnya.

"Yang bikin bertahan sebenarnya bukan cuma soal praktis, tapi ya… murah. Jujur aja, Rp3.500 itu sangat ngebantu," ucap Raka.

Dengan tarif tetap, ia tidak perlu memikirkan biaya tambahan di tengah perjalanan. Semua terasa lebih pasti.

Dalam sebulan, ia mengalokasikan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk transportasi. Ia sudah menghitung semuanya, dari ongkos transportasi, makan siang, hingga sisa yang bisa ditabung.

"Kalau naik jadi Rp10 ribu misalnya, ya otomatis tiga kali lipat dong," ujarnya. "Belum lagi harga makan, listrik, semua naik.

Jadi rasanya kayak… ya makin kepepet," sambung Raka.

Kekhawatiran Penumpang Lain

Annisa Putri Maharani, 31 tahun, merasakan hal serupa. Sebagai account executive di sebuah agensi digital marketing, mobilitas adalah bagian dari pekerjaannya.

Ia sebenarnya memiliki sepeda motor, tapi memilih meninggalkannya di parkiran dekat rumahnya di Ciputat. "Motor itu cuma buat ke titik awal aja," katanya.

Dalam satu hari, Annisa bisa berpindah dua hingga tiga lokasi berbeda. Setiap kenaikan tarif akan berlipat ganda mengikuti jumlah perjalanan.

"Kalau misalnya jadi Rp5 ribu, menurut saya masih oke," ujarnya. "Asal pelayanannya juga naik.

Bus lebih tepat waktu, lebih nyaman, ya itu fair. Tapi ya jangan langsung tinggi banget kayak begitu juga," lanjut Annisa.

Ia mengaku bukan tidak ingin tetap menggunakan transportasi umum. Namun jika selisih biaya semakin besar, keputusan rasional bisa berubah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru