Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, melontarkan kritik terhadap kebijakan hydration breaks atau jeda minum yang diterapkan di Piala Dunia 2026.
Menurut Tuchel, jeda minum justru merusak ritme permainan karena pertandingan terlalu sering terhenti.
>>> Ronaldo Cetak Dua Gol, Catat Rekor di Enam Piala Dunia
Hydration breaks diberlakukan untuk mengantisipasi cuaca panas dan mencegah pemain kelelahan serta dehidrasi. Kebijakan ini berlaku di semua pertandingan Piala Dunia 2026.
Tuchel sudah merasakan dampaknya saat Inggris mengalahkan Kroasia 4-2 pada laga perdana Grup L.
Pelatih asal Jerman itu menilai jeda minum mengganggu ritme yang sudah dibangun tim. Ia merasa pertandingan kini seperti dimainkan dalam empat babak karena harus berhenti dua kali.
"Sebagai pelatih, saya suka memiliki pengaruh dan menyatukan tim, tetapi secara keseluruhan, saya lebih menyukai sepak bola ketika dimainkan dalam satu babak penuh," ujar Tuchel dikutip dari Independent.
>>> Messi Jebol 12 Timnas Berbeda di Piala Dunia
"Itu membangun momentum, itu bagian dari permainan. Sulit untuk membangun momentum dan sulit untuk mempertahankan momentum.
Ini adalah pertarungan di lapangan antara para pemain, yang berlangsung dalam jangka waktu lebih lama."
"Itu hanya menambah karakteristik permainan yang indah. [Jeda] mengurangi keindahannya.
Tetapi dari segi keadilan, tentu saja, masuk akal jika semua orang mendapatkannya," jelasnya.
>>> Portugal Hajar Uzbekistan 5-0, Ronaldo Cetak Dua Gol
Tuchel khawatir intensitas laga berkurang karena tim kesulitan mencapai potensi terbaik akibat seringnya pertandingan terhenti.
