>>> Ai Ogura Juara MotoGP Belanda 2026, Martin Finis Ketiga
Ia menilai perubahan ini terjadi seiring meningkatnya ketergantungan dunia usaha terhadap layanan digital.
Jika beberapa tahun lalu data center hanya dipandang sebagai lokasi penyimpanan server, kini fungsinya telah berkembang menjadi infrastruktur strategis yang menopang aktivitas bisnis perusahaan.
"Ketika data center mengalami gangguan, dampaknya tidak lagi berhenti di sisi IT. Yang terdampak bisa berupa transaksi pelanggan, layanan aplikasi, operasional internal, hingga kepercayaan terhadap perusahaan," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pelanggan enterprise semakin selektif dalam memilih penyedia infrastruktur digital.
Selain kapasitas, mereka kini mempertimbangkan aspek keandalan, keamanan, skalabilitas, konektivitas, efisiensi energi, hingga kemampuan mendukung teknologi baru seperti cloud computing, artificial intelligence (AI), analytics, dan disaster recovery.
Menurut Ariawan, kebutuhan tersebut mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan infrastruktur digital.
Data center tidak lagi dapat berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan layanan cloud, keamanan siber, konektivitas, tata kelola data, dan sistem pemulihan bencana dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Di sektor yang memiliki regulasi ketat seperti perbankan dan telekomunikasi, keandalan data center bahkan telah menjadi bagian dari kepatuhan yang dapat diaudit.
Perusahaan perlu memastikan seluruh sistem dirancang dengan redundansi yang memadai, didukung monitoring berkelanjutan, serta menerapkan standar seperti sertifikasi Tier Data Center maupun ISO 22301 untuk business continuity management.
"Bagi kami, mengelola data center bukan hanya menjaga fasilitas tetap beroperasi. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis pelanggan tetap berjalan dalam berbagai kondisi.
>>> Adopsi AI di Sektor Keuangan Terhambat Shadow AI dan Infrastruktur
Di balik setiap sistem yang kami kelola, ada operasional bisnis dan jutaan pengguna yang bergantung pada layanan digital tersebut," tutup Ariawan.