Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tengah memburu dua kelompok hacker asal Rusia yang diduga meretas akun WhatsApp dan Signal milik pejabat penting.
Pemerintah AS menawarkan imbalan hingga USD 10 juta atau sekitar Rp 179 miliar bagi siapa pun yang memberikan informasi untuk mengidentifikasi atau menemukan kelompok tersebut.
>>> Prediksi Juara Piala Dunia 2026: Prancis Makin Diunggulkan Usai Jerman dan Belanda Tersingkir
Imbalan ini merupakan bagian dari program 'Rewards for Justice' (RFJ) yang menargetkan aktor asing yang melakukan serangan siber terhadap infrastruktur penting AS.
Kelompok Hacker yang Diburu
Kelompok yang dimaksud adalah UNC5792 dan UNC4221, yang terkait dengan badan militer dan intelijen Rusia.
Menurut Kemenlu AS, kelompok ini telah meretas ribuan akun WhatsApp dan Signal milik pejabat pemerintahan dan militer AS, diplomat, hingga jurnalis.
UNC5792 disebut berhubungan dengan Garda Perbatasan Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), sedangkan UNC4221 bekerja atas nama militer Rusia.
Pemerintah AS mengungkapkan bahwa UNC5792 telah melakukan kampanye phishing yang menargetkan akun Signal dan WhatsApp pejabat AS, pimpinan militer, dan personel sekutu.
>>> Martinelli Jadi Pahlawan Brasil di Laga Dramatis Lawan Jepang
Hacker menyamar sebagai agen customer support Signal dan mengirimkan pesan langsung kepada target.
Pesan itu berisi upaya phishing yang memberitahu target bahwa mereka harus melakukan verifikasi dua langkah.
Modus ini digunakan untuk mengelabui pengguna agar mengungkap kunci cadangan data, sehingga hacker bisa membaca komunikasi korban atau mengambil alih akun sepenuhnya.
Meskipun banyak korban, pemerintah AS menegaskan bahwa keamanan dan enkripsi WhatsApp dan Signal belum disusupi.
>>> Review Oppo Find X9 Ultra: Lensa Lengkap dan Berkualitas untuk Fotografi
Pengguna Signal diingatkan bahwa tim customer support resmi hanya akan menghubungi lewat email resmi dan tidak pernah meminta kode verifikasi atau link pemulihan akun melalui aplikasi.