⌂ Beranda News Riset: Manusia 'Hobbit' dari Flores Pemakan Bangkai Sisa Komodo

Riset: Manusia 'Hobbit' dari Flores Pemakan Bangkai Sisa Komodo

Riset: Manusia 'Hobbit' dari Flores Pemakan Bangkai Sisa Komodo
Ilustrasi: Riset: Manusia 'Hobbit' dari Flores Ternyata Pemakan Bangkai Sisa Komodo
A A Ukuran Teks16px

Manusia purba mungil yang telah punah di Indonesia, dijuluki hobbit, ternyata adalah pemakan bangkai yang menyantap sisa gajah kerdil setelah komodo mengambil bagian daging terbaiknya.

Temuan ini menjungkirbalikkan asumsi yang menyebut Homo floresiensis sebagai pemburu hewan-hewan besar.

>>> Prancis Petik Pelajaran Berharga dari Kemenangan Tipis atas Paraguay

Pertama kali ditemukan tahun 2003, H. floresiensis dijuluki hobbit karena ukurannya kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 106 sentimeter.

Arkeolog menemukan peralatan batu, tulang hewan dengan bekas sayatan, serta tulang hangus yang tampaknya menunjukkan perilaku kompleks yang umum ditemukan pada genus Homo.

Para hobbit ini menghilang sekitar 50.000 tahun lalu ketika Homo sapiens mulai menyebar di Asia Tenggara.

Eksperimen Gigitan Komodo

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances, tim peneliti internasional mempertanyakan apakah perilaku H. floresiensis benar-benar semaju yang diasumsikan sebelumnya.

Peneliti mengamati fosil Stegodon florensis insularis, kerabat gajah kerdil punah yang ditemukan di Gua Liang Bua, tempat tulang H. floresiensis dan peralatan batu juga ditemukan.

Untuk membedakan bekas sayatan buatan hobbit dari bekas gigitan komodo, peneliti memberi bangkai kambing pada komodo penangkaran.

Mereka mengambilnya kembali dan mendokumentasikan semua bekas luka gigi komodo. Bekas gigitan terkonsentrasi di area dengan banyak daging, menunjukkan komodo lebih menyukai bagian-bagian berdaging.

Selanjutnya, peneliti menyelidiki tulang Stegodon purba untuk mencari bukti bekas sayatan alat batu H. floresiensis dan bekas gigitan komodo.

Mereka menemukan 54 bekas sayatan pada tulang Stegodon dan hampir dua kali lipat lebih banyak bekas gigitan komodo.

Lebih penting lagi, mereka menemukan bekas gigitan komodo terfokus pada area yang berdaging, sementara bekas sayatan manusia purba sebagian besar berada di area yang tidak banyak dagingnya.

Ini menunjukkan H. floresiensis tidak berburu dan membunuh Stegodon.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM