Perlombaan antariksa tidak lagi hanya tentang mengirim astronaut atau membangun stasiun luar angkasa.
Kini, perusahaan-perusahaan antariksa mulai berlomba menjadi 'pemulung' pertama di orbit Bumi dengan mengembangkan teknologi untuk membersihkan ribuan ton sampah antariksa.
>>> Statistik Penalti Argentina: Messi di Bawah 5 Rekan Setimnya
Perubahan ini dipicu oleh semakin padatnya orbit Bumi akibat ledakan jumlah satelit yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut NASA, terdapat lebih dari 100 juta serpihan sampah antariksa berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi, dengan total berat sekitar 6.000 ton.
Serpihan sekecil cat pun dapat merusak satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 km/jam.
Peluang Bisnis Baru di Industri Antariksa
Dr. Chiranjeevi Phanindra, pendiri dan CEO Cosmoserve Space, menyatakan bahwa jumlah objek yang diluncurkan ke luar angkasa terus meningkat drastis.
Ia memperkirakan kemungkinan peluncuran hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan.
Selama ini, pembersihan sampah antariksa lebih banyak dilakukan pemerintah.
Namun, mulai 2027, aturan baru dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat mewajibkan operator satelit mengeluarkan satelit yang tidak berfungsi dari orbit rendah Bumi maksimal lima tahun setelah masa operasinya berakhir, lebih singkat dari pedoman sebelumnya yang mencapai 25 tahun.
Aturan tersebut membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan swasta yang mengembangkan teknologi pembersihan sampah antariksa.
>>> Hasil Practice Moto3 Jerman 2026: Veda Ega Pratama Tercepat di Sachsenring
Phanindra memperkirakan nilai industri ini dapat mencapai sekitar USD 8 miliar atau sekitar Rp 144 triliun.
Setiap perusahaan menawarkan pendekatan berbeda untuk membersihkan orbit Bumi. Cosmoserve Space mengembangkan lengan robot lunak yang menjepit sampah antariksa sebelum membawanya keluar dari orbit.
Sementara itu, perusahaan KMI mengembangkan teknologi yang mampu menangkap objek di luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus, bahkan telah didemonstrasikan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
