Proyek pengembangan reaktor fusi nuklir komersial di China menunjukkan kemajuan signifikan. Targetnya, teknologi 'matahari buatan' ini dapat menghasilkan listrik pertama kali pada tahun 2030.
Dua magnet superkonduktor utama untuk reaktor fusi Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) telah berhasil menyelesaikan uji penerimaan pengembangan dan pengujian parameter penuh.
>>> Argentina Dua Kali Dipaksa Main Ekstra di Piala Dunia 2026
Lokalisasi Teknologi Inti
Keberhasilan ini menandai lokalisasi penuh semua teknologi inti proyek tersebut. Hal ini merupakan pencapaian penting setelah enam tahun penelitian dan pengembangan intensif.
Tim peneliti berhasil meningkatkan kinerja reaktor sekaligus mengurangi biaya produksi. Biaya material superkonduktor turun drastis, dari sekitar 400 yuan menjadi 100 yuan per meter.
Skala perangkat juga mengalami lompatan signifikan.
Berat satu kumparan meningkat dari 350 ton menjadi 580 ton, memungkinkan operasi pada tingkat energi yang lebih tinggi.
>>> Hasil Moto3 Jerman 2026: Brian Uriarte Juara, Veda Ega Finis Kedelapan
Meskipun demikian, tantangan masih ada.
Pemasangan kumparan dan verifikasi stabilitas jangka panjang serta masa pakai di bawah kondisi operasi yang sulit masih perlu diatasi.
China terus mempercepat kemajuan dalam fusi nuklir komersial.
Pada Januari 2025, proyek EAST berhasil mempertahankan suhu plasma 100 juta derajat Celcius selama 1.066 detik, memecahkan rekor dunia.
>>> Ular Buta Brahmin: Spesies Unik yang Semua Populasinya Betina
Para ilmuwan optimis dapat mewujudkan pembangkitan listrik dari fusi nuklir sekitar tahun 2030, meskipun menyadari kompleksitas teknologi ini.

