Platform distribusi game milik Valve, Steam, justru mencatat rekor baru di tengah lesunya pasar konsol seperti Xbox dan PlayStation.
Pada paruh pertama 2026, Steam menghasilkan pendapatan sebesar USD 11,1 miliar atau sekitar Rp 201 triliun. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah platform tersebut.
>>> Tebak Rider MotoGP dari Helmnya, Bisa Bawa Pulang Saldo e-Wallet Rp 250 Ribu!
Menurut analis dari Alinea Analytics, Rhys Elliott, ada beberapa faktor yang mendorong kinerja gemilang Steam.
Dominasi pasar di China menjadi salah satu alasan utama, di mana 50% pengguna Steam berasal dari negara tersebut.
Faktor lainnya adalah harga yang lebih tinggi untuk perilisan game baru dan kembalinya penerbit pihak ketiga ke Steam.
Elliott mencatat tren jangka panjang pendapatan Steam terus meningkat dengan pertumbuhan selama tujuh semester berturut-turut.
Data menunjukkan pendapatan Steam hampir meningkat lima kali lipat dalam dekade terakhir. Pada paruh pertama 2026, pendapatannya hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2017.
>>> Prancis Incar Balas Dendam ke Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
Game terlaris tahun ini di Steam adalah Forza Horizon 6 yang menghasilkan USD 197,7 juta dalam waktu kurang dari dua bulan.
Disusul Resident Evil Requiem dengan USD 194,5 juta sejak Februari lalu.
Crimson Desert juga laris dengan pendapatan USD 190 juta sejak Maret.
Tiga game indie, yaitu Slay the Spire 2, Subnautica 2, dan Meccha Chameleon, masing-masing meraup USD 141,7 juta, USD 133,6 juta, dan USD 71,3 juta.
Sementara itu, pendapatan game Microsoft turun 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sony juga menghadapi tantangan dengan semakin sedikitnya penjualan game eksklusif PlayStation sejak 2020.
>>> Pentagon Rilis Foto Bintang Segi Enam di Langit, Diduga UFO
Keputusan Sony untuk tidak menghadirkan game eksklusif di PC ke depannya dinilai memangkas potensi pendapatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar konsol sedang tidak secerah Steam.
