⌂ Beranda News Mahasiswa AI Unggul Diburu Perusahaan China Sebelum Lulus dengan Gaji Fantastis

Mahasiswa AI Unggul Diburu Perusahaan China Sebelum Lulus dengan Gaji Fantastis

Mahasiswa AI Unggul Diburu Perusahaan China Sebelum Lulus dengan Gaji Fantastis
Ilustrasi: Mahasiswa AI Unggul Diburu Perusahaan China Sebelum Lulus dengan Gaji Fantastis
A A Ukuran Teks16px

Persaingan ketat memperebutkan talenta di bidang kecerdasan buatan (AI) membuat perusahaan teknologi raksasa di China gencar merekrut peneliti menjanjikan, bahkan sebelum mereka menyelesaikan studi.

Beberapa perusahaan menawarkan paket kompensasi mencapai 1 juta yuan atau sekitar Rp 2,6 miliar untuk mengamankan para peneliti AI terkemuka beberapa tahun sebelum kelulusan.

>>> Foto-foto Menipu Mata Ini Nyata, Bukan Hasil Editan Photoshop

Hu Qi, seorang peneliti doktoral di University of Hong Kong yang fokus pada keamanan agen AI, masih memiliki sisa waktu dua tahun untuk menyelesaikan program Ph.

D. -nya.

Namun, ia sudah didekati oleh para perekrut dengan berbagai tawaran menarik.

Manajer di perusahaan teknologi tempat ia magang juga secara rutin menanyakan rencana pasca kelulusannya dan mendorongnya untuk bergabung penuh waktu segera setelah menyelesaikan gelar.

Pengalaman Hu Qi mencerminkan agresivitas persaingan talenta AI. Perusahaan berlomba mengamankan peneliti menjanjikan jauh sebelum mereka memasuki pasar tenaga kerja.

Vahid Haghzare, direktur Silicon Valley Associates Recruitment, menyatakan bahwa perusahaan yang menunggu hingga kelulusan untuk mencari lulusan terbaik pasti akan kalah dalam persaingan.

Haghzare menambahkan bahwa perekrut sering kali memulai kontak dengan kandidat tiga hingga empat tahun sebelum kelulusan.

Perusahaan teknologi juga aktif menyelenggarakan konferensi, seminar, dan acara lain untuk membangun hubungan dengan mahasiswa potensial sejak dini.

Krisis Talenta AI di China

Upaya rekrutmen besar-besaran ini terjadi di tengah kekurangan profesional AI yang dihadapi China.

Menurut perkiraan McKinsey, China akan membutuhkan sekitar 6 juta pekerja AI pada tahun 2030, sementara pasokan saat ini diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 2 juta pekerja.

Analis McKinsey, Alex Sawaya, menyebutkan bahwa China memiliki dua pilihan realistis: melatih ulang pekerja yang ada atau memperluas pasokan talenta AI untuk masa depan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM