Kehadiran kecerdasan buatan pembuat gambar memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja kreatif.
Banyak orang kini bisa menghasilkan visual menarik secara instan melalui platform berbasis teks.
>>> Kisah Wu Yanni Atlet Cantik China yang Berubah Jadi Puji-pujian
Fenomena ini memicu pertanyaan besar tentang nasib profesi fotografer di dunia nyata.
Afif Nur Efendi, seorang fotografer profesional dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, memberikan tanggapan berbeda.
Ia justru melihat teknologi canggih tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Bagi Afif, perkembangan teknologi pada dasarnya selalu bertujuan untuk mempermudah hidup manusia.
Ia menyamakan kehadiran AI dengan sejarah panjang evolusi perangkat kamera dari masa ke masa.
Ia tidak merasa khawatir profesinya bakal tergantikan karena AI pada akhirnya hanyalah sebuah alat.
Kualitas hasil akhir tetap sangat bergantung pada keahlian figur di balik pengoperasian alat tersebut.
>>> Trent Alexander-Arnold Ungkap Alasan Abaikan Hujatan Pendukung Liverpool
Afif memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mempercepat tahapan pra-produksi proyek.
Sistem ini dinilai efektif membantu pembuatan moodboard serta pencarian referensi visual.
Di balik berbagai kemudahan tersebut, ia juga memberikan catatan kritis terkait tren gambar mesin.
Ia menyoroti kontras antara kesempurnaan visual buatan komputer dan ketidaksempurnaan karya manusia.
Generator gambar memang mampu menciptakan visual sempurna, tetapi belum tentu mampu bercerita.
Manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan warna serta menangkap emosi dari suasana nyata.
Sikap paling bijak saat ini adalah memposisikan teknologi secara proporsional sesuai kebutuhan.
>>> Domain .ai.id Mulai Diperebutkan Publik Global Lewat Fase Landrush
AI membantu merangkai visual, namun manusialah yang tetap memberikan makna pada sebuah karya.
