Teknologi kecerdasan buatan kini semakin akrab di kalangan pekerja Indonesia. Meskipun demikian, tingkat pengenalan yang tinggi belum diikuti oleh pemanfaatan yang produktif.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengungkapkan bahwa sekitar 92% pekerja sudah mengenal AI.
>>> Garis Transfer Fantastis, Wonderkid Man City Ayyoub Bouaddi Masuk Rekor Dunia
Namun, hanya sekitar 15% saja yang menggunakannya secara produktif.
Mayoritas tenaga kerja dilaporkan masih memakai teknologi tersebut sebatas untuk aktivitas pencarian informasi atau browsing. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan besar antara adopsi dan kemampuan peningkatan nilai kerja.
Pemerintah menilai tantangan ke depan berfokus pada dorongan agar masyarakat tidak sekadar mencari informasi. Pengguna diharapkan mampu mengoptimalkan teknologi untuk mendukung pekerjaan serta menciptakan nilai ekonomi.
>>> Peluang Chelsea Rekrut Emiliano Martinez Menurut Emmanuel Petit
Kebutuhan Jutaan Talenta Digital
Upaya mempersempit kesenjangan tersebut dilakukan melalui strategi peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Indonesia disebut membutuhkan lebih dari 9 juta orang dengan kompetensi digital.
Skala kebutuhan yang besar membuat pemerintah menggandeng berbagai pihak melalui kolaborasi lintas sektor. Kerja sama ini melibatkan perusahaan teknologi serta elemen masyarakat sipil.
Fokus pengembangan diarahkan pada peningkatan literasi agar masyarakat siap menghadapi perkembangan teknologi seperti LLM. Penguatan ini dianggap penting karena AI mulai merambah berbagai sektor industri.
>>> Komdigi Siapkan Master Plan Baru Atasi Masalah Pasar ISP Indonesia
Kehadiran teknologi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap cara masyarakat bekerja serta kehidupan ekonomi dan sosial. Pemerintah sendiri menempatkan AI sebagai salah satu pendukung target pertumbuhan ekonomi.