Bagi para penjual online, kenaikan biaya administrasi di marketplace menjadi persoalan pelik.
Di satu sisi, platform tersebut menawarkan jangkauan pasar yang luas, namun di sisi lain, potongan biaya yang terus meningkat menggerus margin keuntungan.
>>> Kejagung Ungkap Dugaan Korupsi Rp 1 T Pengadaan Motor Listrik BGN
Irsyad Fauzi, pemilik Siscraft, sebuah brand custom gift, merasakan langsung dampak tersebut. Usahanya yang dimulai sejak masa kuliah kini sangat bergantung pada marketplace.
Sebelum menggunakan platform tersebut, pesanan harian hanya belasan, namun setelah bergabung, angka itu melonjak drastis hingga di atas 50 pesanan per hari.
Namun, seiring berjalannya waktu, Irsyad melihat biaya admin yang dulu terasa ringan kini semakin naik.
Kenaikan ini memaksa penjual untuk menyesuaikan harga produk, yang berpotensi membuat calon pembeli berpikir ulang.
"Nggak mungkin naik admin (sementara) harga tetap, gitu.
Cuma mungkin lebih ke pembelinya mungkin agak kaget karena (dari) kita (sebagai penjual) pasti naikin harga," ujar Irsyad Fauzi.
Meskipun dampaknya belum terasa signifikan terhadap pendapatan, Irsyad memilih untuk tetap bertahan. Ia melihat marketplace sebagai ruang yang telah membesarkan bisnisnya dan keluar bukanlah pilihan yang mudah.
Berbeda dengan Irsyad, Muhammad Iqbal Ali Daffi, pendiri brand clothing Reviveless, memilih langkah berani untuk keluar dari ekosistem e-commerce.
Keputusan ini diambil setelah melihat potongan biaya layanan dan administrasi yang semakin besar.
Iqbal mencontohkan, untuk produk seharga Rp800 ribu, potongan biaya bisa mencapai sekitar 10-11%, sementara produk seharga Rp2 juta bisa terpotong lebih dari Rp200 ribu.
Kenaikan harga jual untuk menutupi biaya tersebut justru membuat pembeli menjauh.
"Yang seharusnya saya dapat margin yang sama… otomatis saya harus jual harganya Rp980 ribu… Jadinya, malah banyak nggak jadi beli," kata Muhammad Iqbal Ali Daffi.
>>> 5 Transfer Pemain Paling Aneh dalam Sejarah Liverpool
Iqbal melihat persaingan di marketplace semakin tidak sehat dengan adanya perang harga dan margin brand yang menipis.