⌂ Beranda News Menteri Keuangan Berburu Utang ke China dan Inggris

Menteri Keuangan Berburu Utang ke China dan Inggris

Menteri Keuangan Berburu Utang ke China dan Inggris
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
A A Ukuran Teks16px

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan akan terbang ke China dan Inggris untuk mempromosikan surat utang Indonesia.

Dalam bahasa teknokratis, agenda ini disebut diversifikasi pembiayaan negara melalui penerbitan Panda Bond dan penjajakan investor global. Namun, secara sederhana, publik dapat memaknainya sebagai upaya pemerintah "berburu utang".

>>> Timnas Indonesia U-19 Wajib Kalahkan Vietnam untuk Lolos Semifinal Piala AFF

Purbaya menyatakan akan berangkat ke China pada 16 Juni 2026 untuk menawarkan obligasi berdenominasi yuan. Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke Inggris untuk bertemu investor Eropa.

Defisit APBN dan Beban Utang Jatuh Tempo

Mengapa Menteri Keuangan harus turun langsung menawarkan obligasi negara? Jawabannya dapat dilihat dari kondisi APBN.

Hingga akhir Mei 2026, APBN mencatat defisit sebesar Rp 180,4 triliun, setara dengan 0,70 persen terhadap PDB.

Defisit tersebut melonjak sekitar 763,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 20,9 triliun.

Pendapatan negara baru mencapai Rp 1.185 triliun, sementara belanja negara sudah mencapai Rp 1.365 triliun. Pemerintah membutuhkan pembiayaan untuk menutup selisih tersebut.

Tahun 2026 merupakan periode dengan beban utang jatuh tempo terbesar dalam satu dekade.

Total utang pemerintah yang jatuh tempo mencapai Rp 833,96 triliun, naik dari Rp 800,33 triliun pada 2025.

Angka ini menjadi yang tertinggi hingga tahun 2036.

Profil tersebut sudah memasukkan kewajiban pembayaran SBN yang diterbitkan melalui skema SKB masa pandemi Covid-19 sebesar Rp 154,5 triliun.

Dalam praktik pengelolaan fiskal modern, menerbitkan utang baru untuk membayar utang lama dikenal sebagai refinancing atau roll over.

Hampir semua negara melakukannya.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika pemerintah harus mencari utang baru di tengah biaya dana global yang tinggi. Dalam konteks inilah peribahasanya adalah "menggali lubang untuk menutup lubang".

Tantangan Suku Bunga dan Pelemahan Rupiah

Tantangan pemerintah semakin berat setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru