Perum Bulog telah menyalurkan 315.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke berbagai wilayah sepanjang 2026.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan.
>>> Satgas PRR Percepat Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Sumatera
Penyaluran beras SPHP menyasar distributor resmi, pasar tradisional, kios pangan, hingga Gerakan Pangan Murah. Intervensi ini bertujuan agar masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga lebih terjangkau.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan perluasan jangkauan distribusi terus berjalan. Pihaknya berupaya memastikan pemerataan manfaat program di seluruh Indonesia.
“Penyalurannya terus kami percepat dan perluas agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata,” ujar Rizal dalam keterangan resmi, Minggu (7/6/2026).
Selain SPHP, pengendalian harga juga ditopang oleh Bantuan Pangan yang ditargetkan rampung akhir Juni 2026.
Realisasi program Banpang per 6 Juni 2026 telah menjangkau 19,92 juta dari total target 33,2 juta penerima.
Cadangan beras nasional yang dikelola Bulog tercatat dalam posisi kuat. Hingga awal Juni 2026, stok beras mencapai sekitar 5,3 juta ton.
>>> Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Raih Kemenangan ke-100
“Jumlah ini sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan program bantuan pangan, SPHP, serta berbagai intervensi pemerintah,” kata Rizal.
Masyarakat diimbau tidak panik karena volume stok nasional dinilai mampu mencukupi kebutuhan jangka panjang. Ketersediaan stok menjadi jaminan stabilitas pasokan di tingkat pedagang maupun konsumen.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik mencatat tren kenaikan harga beras di semua lini perdagangan pada Mei 2026.
Kenaikan terjadi mulai dari penggilingan, grosir, hingga eceran.
Rata-rata harga beras di penggilingan naik 0,58 persen secara bulanan dan 8,10 persen secara tahunan.
Beras premium naik 0,56 persen, sementara medium naik 0,79 persen.
>>> Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026 Usai Kalahkan Acosta
Di sektor grosir, harga naik 0,68 persen dibanding April, dan di eceran naik 0,38 persen. Data tersebut merupakan rata-rata seluruh wilayah Indonesia.